Spesialis Jantung & Pembuluh Darah Eka Hospital BSD, dr. Daniel Tanubudi. (Foto: Inilah.com/Harris)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Jantung yang berdetak kencang atau berdebar tak beraturan kerap dianggap sepele. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda aritmia, gangguan irama jantung yang berpotensi memicu komplikasi serius hingga berujung kematian bila tidak segera ditangani.
Hal ini pula yang menjadi perhatian dr. Daniel Tanubudi, Spesialis Jantung & Pembuluh Darah Eka Hospital BSD, bertepatan dengan peringatan hari jantung sedunia.
Aritmia sendiri merupakan kondisi di mana irama jantung tidak normal, bisa terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau tidak beraturan. Gangguan ini terjadi karena sinyal listrik yang mengendalikan detak jantung tidak berfungsi dengan baik.
“Gejala awal aritmia sering diabaikan karena dianggap sepele atau dikaitkan dengan kelelahan biasa,” kata dr. Daniel, Jumat (26/9/2025).
Daniel menambahkan, ada beberapa gejala yang erat kaitannya dengan aritmia. Pertama, tentu saja jantung berdebar atau palpitasi. Ini merupakan kondisi di mana seseorang merasak detak jantung yang tiba-tiba cepat atau tidak beraturan, seolah jantung terlompat’.
Lalu, berikutnya pusing atau pingsan, terutama saat jantung berdetak terlalu cepat atau terlalu lambat.
“Kadang juga nyeri dada, atau rasa tidak nyaman, sesak, atau nyeri di dada,” ungkapnya.
Selain jantung berdebar, gejala lain yang patut diwaspadai adalah sesak napas dan kelelahan. Sesak napas ditandai dengan kesulitan bernapas, bahkan saat melakukan aktivitas ringan. Sementara kelelahan muncul dalam bentuk rasa letih berlebihan tanpa penyebab yang jelas.
“Aritmia dapat dipicu oleh kombinasi faktor gaya hidup, genetik, dan penyakit penyerta. Risiko ini meningkat pada individu yang sering mengonsumsi kafein berlebihan, alkohol, merokok, atau mengalami stres kronis,” ujarnya menjelaskan faktor risiko dari aritmia.
Selain itu, riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau aritmia juga berperan besar. Tak kalah penting, kondisi medis lain seperti hipertensi, diabetes, penyakit tiroid, maupun penyakit jantung koroner turut memperbesar kemungkinan seseorang mengalami aritmia.
“Tapi tidak semua aritmia berbahaya. Aritmia itu dibagi dua, ada yang ringan ada yang berat,” kata Daniel.
Aritmia ringan umumnya mencakup kondisi seperti beberapa jenis takikardia atau bradikardia yang tidak menimbulkan gejala serius dan tidak berkaitan dengan gangguan struktural pada jantung.
Sebaliknya, aritmia berat seperti ventricular fibrillation (VFib) merupakan kondisi berbahaya ketika jantung berdetak tidak teratur dan gagal memompa darah ke seluruh tubuh.
Situasi ini dapat memicu henti jantung mendadak, dan tanpa penanganan segera, berisiko menyebabkan kematian hanya dalam hitungan menit.














