Intip Dunia Pijat di Pusat Belanja, Bukan Soal Kemewahan tapi Kebutuhan

Intip Dunia Pijat di Pusat Belanja, Bukan Soal Kemewahan tapi Kebutuhan

Aroma minyak pijat menyeruak di antara derit kursi panjang dan riuh suara pengunjung lantai tiga Blok M Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sisi-sisi lorong itu, toko pakaian menumpuk barang di depan etalase, suara permainan anak-anak bercampur dengan bunyi mesin hiburan, dan langkah kaki tak henti berlalu-lalang.

Di tengah hiruk-pikuk yang tak memberi ruang tenang itu, para pramujasa pijat tetap bekerja, seolah kebisingan sudah menjadi bagian dari napas mereka.

Kontras terasa bila dibandingkan dengan spa modern di luar sana, tempat yang wangi aromaterapi, remang cahaya lilin, dan alunan musik lembut. 

Di sini, pijatan bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Tempatnya bukan kamar privat, melainkan kursi panjang sederhana, tanpa tirai pemisah. Siapapun yang melintas dapat melihat proses pemijatan para pelanggan.

post-cover

Di salah satu sudut, seorang pria berkemeja merah duduk di bangku kecil. Namanya Jhon (29) matanya tampak lelah menatap layar ponsel, mungkin sekadar mengusir rasa bosan di sela waktu tunggu pelanggan. Sesekali ia menegakkan tubuh, menatap lorong, berharap ada satu dua orang yang berhenti dan menawarkan telapak kakinya untuk dipijat.

“Kalau kaki Rp30 ribu (selama) 30 menit,” katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara bising.

“Yang sejam Rp100 ribu, bisa tambah kerok atau bekam, tergantung permintaan,” kata Jhon saat ditemui inilah.com di Blok M Square, Jakarta, Sabtu (11/10/2025).

Tempatnya bekerja memiliki delapan kursi pijat sederhana, dengan satu ruangan khusus untuk pijat yang lebih privat. Ruang khsusus itu hanya ruko kecil, di dalamnya ada satu ranjang tidur untuk pijat dengan cream.

Di sini, tak ada gaji tetap, hanya sistem bagi hasil 50-50 persen dengan pemilik tempat. Jhon, hanya bisa mendapatkan Rp2 juta paling tinggi per dua pekan gajian. Itupun, jika sedang banyak pelanggan.

“Kita digaji dua minggu sekali. Kalau lagi ramai bisa dapat Rp2 juta, kalau sepi ya Rp1,5 juta,” ujar Jhon.

post-cover

Hari-hari ramai datang di akhir pekan. Enam sampai delapan pelanggan bisa datang silih berganti. Tapi di hari biasa, tak jarang mereka hanya duduk menunggu tanpa kepastian.

Jhon mengaku tak begitu khawatir dengan berjamurnya spa-spa mewah dengan fasilitas lengkap terus muncul di luar sana.

“Bersaing sih pasti. Tapi kita terus perbaiki cara pijat kita biar pelanggan nggak lari,” katanya.

Perjalanan hidup Jhon sendiri jauh berliku. Ia datang dari Raja Ampat, menyeberangi pulau demi pulau hingga akhirnya menjejak Kota Jakarta. Sudah hampir 10 tahun Jhon di Jakarta sejak menyelesaikan kuliah di Semarang.

Ia juga sempat menjadi asisten koki di Bekasi, Jawa Barat, namun tak bertahan lama hingga akhirnya kontrak kerjanya tak dilanjutkan.

“Putus kontrak, nggak dilanjutin,” katanya singkat.

Setelah itu, jalan hidup membawanya ke kursi pijat di Blok M Square. Sudah delapan bulan ia bertahan di dunia pijat refleksi ini.

Sementara itu rekan kerjanya, Afif (31) mengaku banyak mendapat pelanggan dari kalangan karyawan yang kantornya di sekitar Blok M. Bahkan, beberapa dari kalangan ojek online (ojol) yang mencari pijat murah.

Afif sudah hampir dua tahun bekerja sebagai tukang pijat di lantai 3 Blok M Square. Pekerjaan ini memang tak membuat Afif kaya, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan istri dan dua anaknya yang menunggu di rumah.

“Iya, mau nggak mau, nyari kerjaan susah,” kata Afif.

post-cover

Ia juga mencari sampingan dengan menjadi ojol. Seringkali ia hanya mendapatkan satu, dua penumpang di malam hari searah jalan pulang.

Berbeda dengan Jhon, pengasilan Afif lebih rendah. Ia hanya bisa mendapatkan angka tertinggi Rp1,5 juta per dua pekan. Namun setiap kali menerima gaji, Afif harus memutar otak agar semua kebutuhan bisa tercukupi.

“Kalau ada tawaran kerja yang layak, pelatihan dari pemerintah mah saya mau,” ucap Afif.

Pijat-pijat sederhana dengan harga yang masih relatif murah itu masih banyak digemari. Farhan baru saja pulang dari tempat kerjanya.

Ia memilih hanya untuk pijat biasa dengan tarif Rp30 ribu, per 30 menit. Rencana itu sudah diniatkan Farhan sejak kemarin, namun baru terealisasikan hari ini.

“Buat pijat tipis-tipis mah lumayan. Buat legain badan,” ucapnya. 

Visited 3 times, 1 visit(s) today