Pengakuan Eks Sandera: Hamas Izinkan Kami Ibadah 3 Kali Sehari

Pengakuan Eks Sandera: Hamas Izinkan Kami Ibadah 3 Kali Sehari

Ikhsan Medium.jpeg

Jumat, 17 Oktober 2025 – 18:55 WIB

Seorang personel tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Matan Angrest, mengungkap perlakuan kelompok Hamas saat ia ditahan sebagai sandera. (Foto: Times of Israel/Government Press Office)

Seorang personel tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Matan Angrest, mengungkap perlakuan kelompok Hamas saat ia ditahan sebagai sandera. (Foto: Times of Israel/Government Press Office)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari salah satu warga negara Israel yang baru saja dibebaskan Hamas. Kesaksian ini kontras dengan narasi yang selama ini beredar. Seorang personel tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Matan Angrest, mengungkap perlakuan kelompok perlawanan Palestina tersebut saat ia disekap.

Angrest, yang merupakan satu dari 20 sandera yang dilepas Hamas pada Senin (13/10/2025) dan Selasa (14/10/2025) pascatercapainya gencatan senjata permanen, mengakui bahwa Hamas memberikan kebebasan penuh kepada para sandera untuk menjalankan ibadah mereka selama masa penyekapan.

Dalam wawancaranya dengan televisi Israel, Channel 13, seperti dikutip oleh Middle East Monitor, Angrest membeberkan detail perlakuan itu. Ia mengatakan Hamas mengizinkan para sandera untuk melaksanakan ibadah umat Yahudi sebanyak tiga kali dalam sehari.

Perlengkapan Ibadah yang Disediakan Hamas

Tak hanya memberi izin, Hamas bahkan bersedia memenuhi sejumlah permintaan khusus para sandera terkait perlengkapan ibadah. Angrest menyebutkan, peralatan sakral yang disediakan oleh penculiknya antara lain tefilin (kotak pelapis kening dari kulit yang digunakan untuk bersujud dalam ibadah Yahudi), siddur (buku bacaan doa wajib untuk ibadah harian), dan juga Kitab Suci Taurat.

“Saya tidak pernah meninggalkan ibadah tiga kali sehari di dalam terowongan saat masih disekap Hamas,” tutur Angrest.

Ia juga menambahkan detil dramatis, membeberkan bagaimana ia dan sandera lain nyaris tewas akibat serangan bom Israel sendiri yang berulang kali menghancurkan terowongan tempat mereka ditawan.

Kontras dengan Penjara Israel

Pengakuan Angrest tentang perlakuan baik yang ia terima selama disandera oleh milisi Hamas sangat bertolak belakang dengan berbagai laporan yang dikeluarkan oleh organisasi hak asasi manusia global. Laporan-laporan tersebut kerap menggambarkan kondisi yang sangat keras dan penyiksaan yang dialami oleh tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Banyak warga Palestina yang ditahan di Israel dilaporkan menderita akibat penyiksaan, termasuk kelalaian medis yang disengaja dan perlakuan buruk lainnya yang melanggar hak asasi manusia.

Di sisi lain, Hamas berulang kali menyatakan bahwa mereka berupaya keras melindungi nyawa para tahanan selama masa penyanderaan. Kelompok perlawanan ini juga terus memperingatkan bahwa bombardir intens dan tanpa pandang bulu yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza menjadi ancaman serius bagi keselamatan para sandera, yang notabene adalah warga negara Israel sendiri.

Beberapa sandera, menurut laporan, bahkan tewas akibat serangan militer Israel.

Kesaksian Matan Angrest ini tentu menjadi narasi penting yang menggarisbawahi kompleksitas konflik dan menyajikan sudut pandang berbeda mengenai perlakuan terhadap tawanan, yang selama ini didominasi oleh informasi sepihak.

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today