Pemain Indonesia berbaris untuk berfoto bersama sebelum pertandingan Kualifikasi Ketiga Piala Dunia FIFA Grup C antara Jepang dan Indonesia di Stadion Panasonic Suita pada 10 Juni 2025 di Suita, Osaka, Jepang. (Foto: Etsuo Hara/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sekaligus pakar manajemen prestasi olahraga, Prof. Djoko Pekik Irianto, menilai kegagalan Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026 harus menjadi titik bagi PSSI untuk berhenti silau terhadap pelatih-pelatih Eropa yang hanya mengandalkan nama besar.
Menurut Djoko, langkah PSSI mengganti Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert sebenarnya dilandasi harapan agar Timnas Indonesia bisa menembus level dunia. Namun, kenyataan, justru sebaliknya.
“Kehadiran Patrick Kluivert kan harapannya memang bisa betul-betul menyodok ke pentas dunia. Tapi kan di dalam perjalanannya nama besar ternyata tidak selalu signifikan membawa prestasi yang tinggi,” ujar Djoko saat dihubungi Inilah.com, Jumat (17/10/2025).
Lebih lanjut, Djoko menilai pendekatan sepak bola ala Eropa, terutama Belanda, yang coba diterapkan Kluivert justru tidak sepenuhnya cocok dengan karakter pemain Indonesia.
Ia menyarankan agar PSSI lebih terbuka terhadap pakem permainan dari kawasan lain yang lebih sesuai, terutama Asia. Sebab, Shin Tae-yong yang sudah lima tahun menukangi Timnas Indonesia sudah membuktikannya.
“Pola permainan kita mengambil pelatih Eropa, Belanda itu kan harapannya bisa mengikuti pola permainan yang ala Eropa. Tapi sebetulnya kita tidak harus mengikuti ala Eropa. Amerika Latin punya sendiri, Asia juga, seperti Korea itu punya pola sendiri. Nampaknya kita masih cocok dengan pola-pola di luar Eropa,” tutur dia.
Terlepas dari itu, Djoko menegaskan keputusan memberhentikan Kluivert merupakan langkah tepat, namun perlu diikuti dengan evaluasi menyeluruh untuk menentukan sosok pelatih baru, yang benar-benar memahami karakter sepak bola Indonesia dan bisa membawa Timnas lebih kompetitif di kawasan Asia.
“Utamanya nanti sebentar lagi kan ada Piala Asia 2027 dan Piala AFF 2026,” jelasnya.
Lebih jauh, Djoko berharap evaluasi kali ini menjadi titik awal bagi PSSI untuk menyusun peta jalan jangka panjang menuju kesuksesan lolos Piala Dunia 2030. Selain itu, menurut dia meloloskan Timnas Indonesia ke Olimpiade 2028 di Los Angeles juga dapat menjadi bagian dari tahapan menuju misi besar itu.
“Kita inginnya bisa lolos ke Piala Dunia 2026, tapi karena gagal berarti kita ada waktu sampai 2030. Kualifikasi olimpiade juga sudah berjalan karena 2028 nanti di LA. Jadi harapan kita nanti segera merombak tim, pelatih, dan sasaran utamanya Piala Asia, lalu berikutnya menuju 2028 dan 2030,” kata Djoko memungkas.













