Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: PorosJakarta)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nama Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, semakin ramai diperbincangkan kaum Gen Z. Bukan karena gaya heboh atau sensasi politik, namun cara komunikasi yang lugas, sederhana dan mudah dipahami anak muda. Istilah anak muda: ramah dan ‘renyah’ di telinga.
Dilantik pada 8 September 2025 menggantikan Sri Mulyani, Purbaya berhasil mencuri perhatian masyarakat, khususnya generasi muda.
Misalnya saja, baru beberapa hari menjabat, Purbaya yang menyukai drama China itu, mengeluarkan gebrakan dengan menaruh uang Rp200 triliun ke 5 bank pelat merah, atau Himbara (Himpunan Bank Milik Negara).
Awalnya banyak juga yang kontra. Baik dari kalangan ekonom, akademisi hingga rakyat jelata yang awam soal keuangan. Namun, belakangan senyap.
Cukup deras komentar lewat media sosial (medsos) terkait gaya komunikasi Purbaya yang ‘nyeleneh’ itu. Tapi, kalau dibuat perbandingan, suara yang positif lebih mendominasi.
Padahal, Purbaya saat dilantik menjadi menkeu, sempat diremehkan. Disebut tidak akan sehebat Sri Mulyani. Kini, ya itu tadi, semuanya berbalik.
“Bu Sri ideal sebagai Gubernur Bank Indonesia yang fokus pada stabilitas, sementara Pak Purbaya lebih tepat sebagai Menteri Keuangan yang mendorong ekspansi fiskal. Perbedaan ini juga jelas terlihat dari Bu Sri yang menekankan risiko ancaman global terhadap ekonomi Indonesia, sedangkan Pak Purbaya menyuarakan optimisme terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Intinya, kita butuh Bu Sri saat global dilanda krisis finansial, dan butuh orang seperti Pak Purbaya saat recovery pasca krisis,” ucap seorang netizen.
Terbaru, Purbaya ternyata sangat ‘melek’ medsos zaman now. Dia punya akun TikTok, namanya @purbayayudhis. Penting untuk membuka ruang dialog sekaligus menyampaikan isu-isu mengenai keuangan negara.
Menariknya, banyak unggahan video di akun TikTok yang menunjukan kedekatan Menteri ‘Koboi’ ini dengan anak muda.
Ketika menyambangi Gedung DPR di Jakarta Pusat, misalnya, Purbaya mendadak dirubung anak-anak belia. Biasalah, minta foto bersama. Begitu kuatnya pesona pria kelahiran Bogor itu.
“Aura Pak Purbaya itu positif. Apa yang keluar dari ucapannya itu yang terjadi, jadi ucapannya bukan narik pajak rakyat tapi narik pajak orang kaya buat rakyat, apa gak menyala tuh,” ucap Aji, salah satu anak muda yang ikut merubung.
Semula kaget, namun Purbaya melontarkan senyum. Dia pun menuruti keinginan mereka yang mungkin seumuran anaknya itu. Tak ada protokuler. Padahal, Purbaya bukan menteri sembarangan.
Dengan wajah santai, Purbaya langsung mengeluarkan pose andalannya. Apa itu? Jari jempol. Purbaya juga melemparkan senyuman lebar saat selfie. “Boleh foto tapi jangan nanya, pusing gue,” ucap Purbaya sambil tertawa.
Tapi, jangan anggap Purbaya akan santai jika berhadapan dengan urusan anggaran. Dia akan mati-matian bertahan. Bahwa anggaran haruslah digunakan untuk sesuatu yang produktif. Yang mendukung pertumbuhan ekonomi tinggi. Untuk sebesar-besarnya kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Gaya komunikasi Purbaya akan berubah frontal. Tak pandang siapa yang dihadapinya. Tak heran banyak pejabat bahwa politikus, dibuatnya mendadak panas dingin.
Purbaya juga tak segan menyikat jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang ketahuan melakukan penyelewengan. Lewat ‘Lapor Pak Purbaya’ siapapun kini bisa melaporkan pegawai yang main-main di Kementerian Keuangan melalui WhatsApp (WA).
Purbaya kondang, ternyata, bukan hanya suara menggelegar namun sepak terjangnya nyata untuk negara. Serta kesederhanaannya. Beberapa waktu lalu, netizen dibikin heboh dengan video merakyat Purbaya, saat makan siang bersama anak buahnya di kantin Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Pusat.
Dia pesan ayam goreng cabai ijo seharga Rp27 ribu dan 10 tusuk sate Madura. “Enak ya lihat menteri sederhana dan juga berdaya cipta merakyat seperti ini,” kata Dijan, salah satu netizen.
Bagi Gen Z yang kritis dan tidak suka basa-basi, Purbaya menawarkan kombinasi langka: paham ekonomi, berani ambil keputusan, dan mampu berbicara dengan bahasa yang relate.
Dia tidak membangun popularitas lewat pencitraan, namun lewat kejujuran dan logika yang kuat. Di saat banyak pejabat sibuk menjaga citra, Purbaya datang sebagai sosok apa adanya. Itulah kunci. Semangat terus pak.














