Ilustrasi inflasi. (Foto: Freepik)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data yang mengejutkan pasar. Sepanjang Oktober 2025, Indonesia mencatatkan laju inflasi yang jauh melampaui ekspektasi. Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi Oktober tercatat sebesar 0,28 persen, melonjak signifikan dibandingkan September yang berada di level 0,21 persen.
Jika diukur secara tahunan (year-on-year/yoy), tingkat inflasi mencapai 2,86 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan konsensus yang beredar di kalangan analis dan lembaga keuangan.
Data yang disampaikan BPS dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/11/2025), ini berbanding terbalik dengan prediksi pasar. Konsensus sebelumnya memperkirakan inflasi bulanan Oktober hanya akan bertengger di level 0,05 persen dan inflasi tahunan 2,59 persen.
Lonjakan inflasi sebesar 0,28 persen mtm ini menjadi sinyal penting bagi otoritas moneter, terutama Bank Indonesia (BI), untuk mencermati tekanan harga yang muncul di tengah perekonomian.
Emas Perhiasan Jadi Biang Keladi Utama Inflasi Oktober
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Data BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan secara rinci sektor mana yang menjadi penekan utama kenaikan harga. Menurutnya, kelompok pengeluaran yang menyumbang inflasi terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mencatatkan inflasi sebesar 3,05 persen dan memberikan andil inflasi yang substansial, yakni 0,21 persen.
Fokus utama inflasi dari kelompok tersebut ternyata didominasi oleh komoditas mahal.
“Komoditas dominan yang pendorong utama sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya adalah emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen,” tegas Pudji dalam konferensi pers tersebut.
Kenaikan harga emas, yang kerap dipengaruhi dinamika harga komoditas global dan nilai tukar rupiah, kembali menjadi penyumbang tekanan inflasi domestik.
Bukan Hanya Emas: Bahan Pangan Ikut Menyumbang Andil
Meskipun emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar, tekanan inflasi dari sektor bahan pangan tak bisa diabaikan. Beberapa komoditas pangan pokok kembali menunjukkan tren kenaikan harga yang turut memberi andil dalam melonjaknya angka inflasi Oktober.
Komoditas pangan yang ikut berkontribusi signifikan terhadap inflasi antara lain: cabai merah dengan andil inflasi 0,06 persen, telur ayam ras dengan andil 0,04 persen, dan daging ayam ras dengan andil sebesar 0,02 persen.
Kombinasi antara kenaikan harga komoditas non-pangan mewah (emas) dengan kenaikan harga bahan pangan volatil menunjukkan adanya tekanan inflasi yang berasal dari berbagai sisi.
Data BPS ini menjadi basis bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah intervensi pasar, khususnya untuk mengendalikan harga-harga pangan jelang akhir tahun.











