Dua di tengah: Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya (kiri) dan Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal (kanan) di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (17/11/2025). (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah menghadapi kendala serius dalam hal ketersediaan tenaga ahli gizi. Badan Gizi Nasional (BGN) mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan tenaga profesional untuk mendukung operasional puluhan ribu dapur MBG di seluruh Indonesia.
Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya menyampaikan kekhawatiran ini dalam pertemuan dengan Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal dan pengurus Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (17/11/2025).
Sony menjelaskan bahwa dari 14.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang sudah beroperasi, hanya sekitar 16.000 dari total 53.000 anggota Persagi yang tercatat aktif. “Sehingga apabila fenomena ini terjadi di lapangan yaitu sulitnya dicari ahli gizi karena memang sudah mendekati,” kata Sony.
Masalahnya semakin kompleks dengan adanya sekitar 2.000 ahli gizi yang belum terserap, namun keberadaannya tidak jelas. “Ahli gizi aktif ada 16.000, memang masih ada 2.000, tapi 2.000 ini ada di mana? Susah, itulah yang dicari agak kesulitan,” sambungnya.
Tekanan semakin besar setelah Komisi IX DPR meminta BGN menyiapkan solusi konkret untuk memenuhi kebutuhan ahli gizi hingga akhir 2025. Sony mempertanyakan kesiapan Persagi jika jumlah SPPG bertambah menjadi 22.000 unit.
“Siap enggak ini Persagi memenuhi? Bila SPPG nanti mencapai 22.000 saja, siap enggak? Bagaimana kekurangan 6.000 ini dipenuhi? Apabila ternyata masih juga belum ada, apa solusinya yang harus dilakukan?” ucap Sony.
Ia menambahkan, “Atau langkah apa yang harus dilakukan oleh BGN supaya tetap meskipun tidak seluruhnya sempurna pemenuhan itu.”
Meski menghadapi tantangan tersebut, BGN tetap berupaya mencari solusi dengan mempertimbangkan berbagai usulan dari Persagi. “Berdasarkan saran atau solusi dari Persagi, yang dilakukan oleh BGN itu masih tetap dalam kerangka yang memenuhi, tidak terlalu menyimpang,” tutur Sony.










