Legenda Manchester United Gary Neville mengaku bisa menerima hasil imbang 4-4 melawan Bournemouth pada lanjutan Liga Inggris di Old Trafford. Bagi Neville, performa yang ditunjukkan Setan Merah di laga penuh drama itu jauh lebih bisa ditoleransi dibandingkan dua penampilan kandang sebelumnya yang dinilai hambar.
Manchester United sebenarnya memulai laga dengan sangat baik. Amad Diallo membawa tuan rumah unggul cepat sebelum Antoine Semenyo menyamakan kedudukan. Casemiro kemudian mengembalikan keunggulan MU lewat sundulan jelang turun minum, menutup babak pertama dengan skor 2-1.
Namun situasi berubah drastis di awal babak kedua. Bournemouth tampil agresif dan langsung mencetak gol penyeimbang melalui Evanilson hanya beberapa detik setelah kick-off. Marcus Tavernier kemudian membalikkan keadaan lewat tendangan bebas berkualitas. Bruno Fernandes merespons dengan gol serupa, sebelum Matheus Cunha kembali membawa MU unggul.
Drama belum usai. Eli Junior Kroupi mencetak gol penyeimbang di menit akhir, bahkan Bournemouth nyaris mencuri kemenangan lewat dua peluang David Brooks.
Meski kembali gagal menang di kandang untuk laga ketiga beruntun, Neville menilai ada progres nyata dalam permainan tim asuhan Ruben Amorim. Berbicara kepada Sky Sports, ia menekankan perbedaan mencolok dibandingkan kekalahan dari Everton dan hasil imbang kontra West Ham.
“Saya sangat kritis setelah laga Everton dan West Ham karena performanya datar dan tanpa urgensi,” kata Neville.
“Malam ini kebalikannya. Mereka bermain dengan niat, tempo tinggi, dan selalu mencoba mengalirkan bola ke depan. Dengan performa seperti ini, saya bisa hidup dengan hasilnya.”
Neville juga memuji keberanian Amorim mengubah pendekatan taktik ketika MU tertinggal 3-2. Pelatih asal Portugal itu beralih ke formasi 4-4-2 demi menambah daya gedor.
“Ketika United tertinggal, Amorim berani mengubah sistem. Lupakan soal formasi, dia melakukan hal yang benar. Dia memasukkan pemain yang tepat dan United langsung menjadi ancaman besar,” ujarnya.
Hasil imbang ini membuat MU tertahan di peringkat keenam klasemen dan kembali gagal memanfaatkan peluang naik ke zona Liga Champions. Catatan kandang mereka juga kontras dengan performa tandang, di mana MU belum kalah sejak September.
Meski demikian, ada sisi positif yang disorot Neville. Setelah musim lalu hanya mencetak 44 gol dan finis di posisi ke-15, MU kini sudah mengoleksi 30 gol dari 16 laga liga. Angka itu menyamai Arsenal dan hanya kalah dari Manchester City.
Menurut Neville, gaya bermain menyerang dan menghibur inilah yang menjadi kunci untuk kembali menghubungkan tim dengan para pendukung.
“Para suporter memang kecewa karena tidak menang, tapi mereka tetap bertahan untuk bertepuk tangan. Mereka bisa menerima pertandingan seperti ini,” ujarnya.
“Old Trafford adalah tempat hiburan. Tentu Anda ingin menang dan meraih trofi, tapi mendapatkan gaya bermain dan performa yang tepat adalah fondasi yang sangat penting,” lanjutnya.
Neville mengakui lini belakang MU masih rapuh, terutama dengan absennya sejumlah bek utama. Ia bahkan sempat menyebut empat gol mungkin belum cukup untuk memenangkan laga tersebut.
“Saya bilang di awal babak kedua, mungkin perlu mencetak empat atau lima gol untuk menang. Ternyata empat saja tidak cukup,” katanya.
“Tapi saya menikmati pertandingan ini. Saya bisa menerima laga seperti ini. Yang tidak bisa saya terima adalah pertandingan hambar tanpa intensitas,” pungkasnya.














