Badai musim dingin memperparah krisis di Jalur Gaza, Palestina. (Foto: Al Jazeera)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Musim dingin yang seharusnya membawa berkah hujan, kini berubah menjadi horor bagi warga Palestina di Jalur Gaza. Badai musim dingin yang membawa angin kencang dan suhu ekstrem dilaporkan telah menghancurkan tempat perlindungan yang tersisa, memperpanjang daftar penderitaan warga yang sudah luluh lantak akibat konflik.
Di Beit Lahia, Jalur Gaza Utara, seorang anak dilaporkan terluka parah setelah tertimpa reruntuhan dinding bangunan yang roboh akibat terjangan angin kencang pada Sabtu (10/1/2026). Insiden ini menjadi potret betapa rapuhnya sisa-sisa bangunan yang kini terpaksa ditinggali warga karena ketiadaan hunian layak.
Tenda Nilon vs Amukan Alam
Di wilayah dataran rendah, banjir dilaporkan merendam ribuan tenda pengungsi. Tenda-tenda yang hanya berbahan nilon tipis dan kain seadanya itu tak berdaya menahan debit air. Tak sedikit tenda yang tercabut hingga terbang terbawa angin, memaksa keluarga –termasuk bayi dan lansia– terpapar langsung suhu dingin yang menggigit di ruang terbuka.
Ribuan orang kini terlunta-lunta di jalanan, taman bermain, hingga alun-alun kota. Sekolah-sekolah yang dijadikan tempat pengungsian pun sudah melampaui kapasitas, membuat banyak warga terpaksa tidur di area terbuka tanpa pelindung memadai.
Krisis Energi: Dingin Tanpa Pemanas
Penderitaan ini kian paripurna akibat kelangkaan bahan bakar yang akut. Tanpa adanya pasokan energi, warga tidak memiliki sarana pemanas untuk melewati malam-malam yang membeku. Blokade yang masih berlangsung membuat masuknya rumah prefabrikasi (rumah rakitan), bahan bangunan, dan pasokan rekonstruksi menjadi mustahil.
Kondisi ini memaksa warga tetap bertahan di bangunan-bangunan yang sudah rusak berat dan tidak stabil secara struktur. Padahal, bangunan-bangunan tersebut sewaktu-waktu bisa runtuh akibat gempa kecil maupun cuaca ekstrem.
Blokade yang Mematikan
Pemerintah setempat dan lembaga kemanusiaan memperingatkan bahwa tanpa adanya intervensi internasional untuk membuka akses material bangunan dan bahan bakar, angka kematian akibat hipotermia dan kecelakaan akibat bangunan runtuh akan terus meningkat.
Jalur Gaza kini bukan hanya medan tempur, tetapi juga medan laga melawan keganasan alam yang tak berpihak pada mereka yang lemah.














