Bumi Makin Membara! WMO Konfirmasi 2025 Jadi Salah Satu Tahun Terpanas dalam Sejarah

Bumi Makin Membara! WMO Konfirmasi 2025 Jadi Salah Satu Tahun Terpanas dalam Sejarah

Alarm bahaya bagi masa depan bumi kembali berbunyi nyaring. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) secara resmi mengonfirmasi bahwa tahun 2025 menempati posisi sebagai salah satu dari tiga tahun terpanas dalam sejarah peradaban manusia. Temuan ini memperpanjang tren suhu global yang kian ekstrem dan mengkhawatirkan.

Berdasarkan analisis gabungan dari delapan kumpulan data (dataset) internasional, rata-rata suhu permukaan global sepanjang 2025 melonjak hingga 1,44 derajat Celsius di atas level praindustri (periode 1850-1900).

Dalam rilis resminya, Rabu (14/1/2026), WMO memaparkan bahwa enam dari delapan dataset tersebut menetapkan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga. Sementara itu, dua data lainnya bahkan menempatkan 2025 di urutan kedua terpanas dalam sejarah pencatatan selama 176 tahun terakhir.

Jejak Panas Tiga Tahun Terakhir

Data ini menunjukkan tren yang semakin mengerikan. Periode 2023 hingga 2025 kini resmi dinobatkan sebagai ‘trio tahun terpanas’ yang pernah tercatat di seluruh sistem pemantauan global. Jika dirata-ratakan, suhu gabungan dalam tiga tahun terakhir telah menyentuh angka 1,48 derajat Celsius di atas level praindustri —nyaris melewati ambang batas 1,5 derajat yang menjadi patokan dalam Perjanjian Paris.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan. Meski tahun 2025 diawali dan diakhiri dengan fenomena La Nina —yang biasanya memberikan efek mendinginkan— suhu global tetap meroket.

“Tahun 2025 tetap menjadi salah satu yang terpanas akibat akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer secara masif,” tegas Saulo.

Lautan Ikut Mendidih

Kondisi ini tidak hanya terjadi di daratan. Suhu lautan pada 2025 juga mencatatkan rekor tertinggi. Mengacu pada studi dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences, akumulasi panas jangka panjang dalam sistem iklim bumi telah menyusup jauh ke dalam samudera.

Fakta medisnya, sekitar 90 persen ekses panas dari pemanasan global tersimpan di laut. Hal ini menjadikan suhu lautan sebagai indikator paling krusial sekaligus paling jujur mengenai parahnya perubahan iklim saat ini.

Efeknya pun nyata dan mematikan. Lonjakan suhu daratan dan laut ini menjadi motor penggerak berbagai peristiwa cuaca ekstrem. Mulai dari gelombang panas (heatwave) yang membakar, curah hujan lebat yang memicu banjir bandang, hingga siklon tropis yang kian intens.

Saulo pun mengingatkan pentingnya penguatan sistem peringatan dini di seluruh dunia. Tanpa langkah mitigasi yang konkret, Bumi akan terus memecahkan rekor panas yang tak diinginkan, dan taruhannya adalah keselamatan seluruh penghuninya.

Visited 3 times, 1 visit(s) today