Potongan klip buatan Seedance 2.0. (Foto: X/@weewave)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Baru saja menelan pil pahit kehilangan operasional TikTok di Amerika Serikat, raksasa teknologi Tiongkok, ByteDance, langsung tancap gas. Akhir pekan ini, mereka resmi merilis Seedance 2.0, sebuah model generator video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digadang-gadang jauh melampaui kompetitornya.
Peluncuran ini bukan sekadar pembaruan fitur, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa dominasi teknologi mereka belum berakhir. CNBC melaporkan, fitur unggulan Seedance 2.0 yang dinamakan “multi-lens storytelling” menjadi game changer di industri ini.
Konsistensi Karakter: “Holy Grail” AI Video
Selama ini, kelemahan terbesar video AI adalah ketidakmampuan menjaga konsistensi karakter saat berganti scene. Namun, Seedance 2.0 mendobrak batasan itu. Model ini mampu menciptakan berbagai adegan berbeda namun tetap mempertahankan gaya visual dan wajah karakter yang sama persis.
Tak hanya cerdas, mesin ini juga ‘ngebut’. Seedance 2.0 diklaim mampu memproduksi video resolusi 2K dengan kecepatan 30% lebih tinggi dibanding model lain di pasar. Fleksibilitasnya pun mengerikan; pengguna bisa memberikan perintah (prompt) berupa teks, gambar, video pendek, hingga audio.
Hampir Mustahil Dibedakan dengan Realitas
Saat ini, akses Seedance 2.0 masih terbatas pada pengguna eksklusif di platform Jimeng AI milik ByteDance. Namun, South China Morning Post (SCMP) mencatat respons pasar sangat eksplosif. Kabar peluncuran ini bahkan langsung mengerek harga saham perusahaan-perusahaan AI di Tiongkok.
Wang Lei, seorang programmer asal Guangdong yang menjajal versi beta, memberikan testimoni yang cukup merinding.
“Dengan peningkatan realitasnya, saya rasa sangat sulit membedakan apakah video ini dibuat oleh AI atau kamera asli,” ujarnya kepada SCMP.
Fitur kontrol kamera yang presisi dan alat penyuntingan bawaan membuat batas antara kreator manusia dan mesin semakin kabur.
Hollywood Terancam atau Cuma Gimmick?
Kemunculan Seedance 2.0 memanaskan kembali debat lama: apakah AI akan membunuh industri film tradisional?
Pekan lalu, sutradara kawakan Darren Aronofsky merilis seri film pendek AI bertajuk ‘On This Day… 1776’. Meski proyek ini menuai banyak cemoohan karena karakter yang terlihat “mati”, jumlah penontonnya meledak hingga ratusan ribu.
Entah karena rasa penasaran atau kekaguman, satu hal yang pasti: AI video tidak lagi sekadar alat bantu latar belakang. Dengan hadirnya Seedance 2.0, ByteDance membuktikan bahwa masa depan di mana satu orang bisa memproduksi film sekelas bioskop dari kamar tidur, mungkin sudah di depan mata.














