Ricuh di Laga Persib Vs Ratchaburi di ACL 2, PSTI Sentil PSSI: Ini Bukan Salah Suporter Semata!

Ricuh di Laga Persib Vs Ratchaburi di ACL 2, PSTI Sentil PSSI: Ini Bukan Salah Suporter Semata!

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Sabtu, 21 Februari 2026 – 13:57 WIB

Laga Ratchaburi FC vs Persib Bandung, babak 16 besar AFC Champions League Elite II di Stadion Ratchaburi, Na Muang, Rabu (11/2/2026).

Laga Ratchaburi FC vs Persib Bandung, babak 16 besar AFC Champions League Elite II di Stadion Ratchaburi, Na Muang, Rabu (11/2/2026).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kericuhan suporter usai pertandingan leg kedua Persib Bandung versus Ratchaburi di babak 16 besar AFC Champions League 2 (ACL Two) berpotensi berujung pada sanksi dari AFC terhadap klub dan sepak bola Indonesia secara umum.

Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia, Ignatius Indro, menegaskan insiden tersebut harus dilihat tidak semata sebagai kesalahan oknum suporter, tetapi juga sebagai cerminan kegagalan sistemik dalam melakukan edukasi suporter secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Kami menyesalkan terjadinya kericuhan yang kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia di level internasional. Namun, persoalan ini tidak bisa terus-menerus dibebankan hanya kepada suporter,” katanya kepada Inilah.com, Sabtu (21/2/2026).

“Faktanya, hingga hari ini edukasi suporter belum pernah dilakukan secara serius hingga ke akar rumput, baik oleh pemerintah maupun oleh PSSI,” tegas Indro.

Indro menilai meskipun suporter telah diakui secara hukum dalam Undang-Undang Keolahragaan, pengakuan tersebut belum disertai dengan implementasi kebijakan yang nyata dan operasional di lapangan.

“Pengakuan suporter dalam Undang-Undang Keolahragaan tidak boleh berhenti sebagai simbol. Harus ada aturan turunan yang bersifat teknis dan mengikat,” katanya.

Ia berujar, aturan tersebut harus memaksa seluruh stakeholder sepak bola mulai dari federasi, klub, operator liga, aparat keamanan, hingga pihak-pihak yang selama ini diuntungkan dari industri sepak bola untuk melakukan edukasi suporter secara sistematis dan berkelanjutan.

Menurutnya, tanpa regulasi turunan yang tegas, pendekatan yang selama ini digunakan hanya bersifat reaktif, yaitu menghukum setelah kejadian, bukan membangun kesadaran sebelum insiden terjadi.

“Kami mendorong pemerintah dan PSSI segera menyusun aturan turunan dari Undang-Undang Keolahragaan yang secara khusus mengatur pendidikan dan pembinaan suporter,” ungkapnya.

Selain itu, PSTI kata Indro juga meminta program edukasi suporter dilakukan secara terstruktur hingga komunitas basis, bukan hanya pada kelompok tertentu atau menjelang pertandingan besar.

“Seluruh stakeholder sepak bola diwajibkan terlibat dalam proses edukasi sebagai bagian dari tanggung jawab industri sepak bola,” ujarnya.

“Pendekatan pembinaan lebih diutamakan daripada semata-mata pendekatan represif dan sanksi,” katanya.

Indro berpendapat, apabila edukasi suporter dilakukan secara konsisten sejak dini dan menyentuh basis akar rumput, maka potensi kericuhan dapat ditekan secara signifikan.

“Sepak bola Indonesia tidak akan maju jika suporter terus dijadikan kambing hitam tanpa dibekali pengetahuan, kesadaran, dan ruang partisipasi yang sehat,” ujar Ignatius Indro.

Visited 12 times, 1 visit(s) today