Tuduhan Pelecehan Seksual Panjat Tebing Indonesia “Bunuh” Hendra Basir

Tuduhan Pelecehan Seksual Panjat Tebing Indonesia “Bunuh” Hendra Basir

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Sabtu, 28 Februari 2026 – 16:36 WIB

Pelatih kepala panjat tebing Indonesia Hendra Basir (foto:Antara/)

Pelatih kepala panjat tebing Indonesia Hendra Basir (foto:Antara/)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Mantan pelatih panjat tebing Nasional, Hendra Basir menilai tuduhan pelecehan seksual terhadap atlet yang dialamatkan padanya merupakan bentuk pembunuhan karakter.

Ia menyebut tuduhan tersebut terasa tidak adil karena, menurutnya, tidak pernah ada proses klarifikasi lebih dulu dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sebelum isu tersebut mencuat ke publik.

Menurut Hendra, aduan delapan atlet lima putra dan tiga putri seharusnya terlebih dahulu dikonfirmasi kepadanya agar persoalan menjadi terang.

“Iya, jadi buat saya ini sudah pembunuhan karakter. Karena tidak ada proses tabayyun dulu ke saya. Apakah benar delapan orang ini, lima putra, tiga putri ini begini ceritanya gitu kan. Itu kan buat saya sudah enggak fair gitu,” kata dia baru-baru ini.

Meski demikian, Hendra mengaku mencoba menerima situasi yang terjadi, termasuk konsekuensi atas polemik tersebut.

“Tapi ya saya terima, enggak apa-apa. Toh juga dengan ini pun saya juga udah cukuplah di tim nasional gitu,” ucapnya menambahkan.

Seperti diketahui, isu dugaan pelecehan seksual mencuat setelah FPTI mengeluarkan surat keputusan tentang penonaktifan sementara Hendra sebagai pelatih kepala pelatnas.

Dalam surat tersebut, penonaktifan dilakukan menyusul adanya aduan dari delapan atlet terkait dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik.

“Jadi kalau yang dibilang bahwa seandainya nempeleng itu masuk dalam ranah hukum, ya saya terima,” katanya.

“Atau memeluk sambil cium kening dan ubun-ubun gitu masuk dalam kategori pelecehan seksual, ya saya terima konsekuensinya gitu kan,” ucapnya menambahkan.

Ia menegaskan perlakuannya terhadap atlet, menurut versinya, tidak berbeda jauh dengan perlakuannya kepada anak-anak kandungnya di rumah. Ia mencontohkan kebiasaan mencium kening dan kepala setelah beribadah sebagai bentuk kasih sayang.

“Nah, saya tidak membela diri apakah itu bukan pelecehan atau tidak. Maksud saya, tidak setiap momen saya seperti itu,” katanya.

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan momen-momen tersebut biasanya terjadi dalam situasi tertentu, misalnya ketika atlet mengalami drop mental setelah bertanding.

“Jadi ada momen ketika mereka misalkan contoh bertanding, mereka drop, jadi saya panggil satu-satu gitu. Dan ya kalau putri udah pasti ada fase nangisnya karena dia kecewa performanya nggak keluar dan lain-lain gitu kan. Jadi saya marahin dulu, habis itu ya fase storming, kemudian bonding-nya ya biasa,” tuturnya.

Menurutnya, pola pendekatan tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada keberatan yang disampaikan secara langsung.

“Buat saya itu sudah bertahun-tahun itu normal-normal saja. Saya nggak menormalisasi, tapi buat saya ya kalau memang itu nggak nyaman, seharusnya kan temen-temen atlet ngomong gitu kan,” katanya.
 

Visited 8 times, 1 visit(s) today