Penjualan BYD anjlok 36 persen di awal 2026, membuat Geely berhasil melampaui raksasa EV tersebut di pasar China. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Selama hampir tiga tahun terakhir, pabrikan otomotif asal China, BYD, seolah berjalan di atas air. Tanpa cela. Mereka terus menggempur pasar dengan model gres, ekspansi jajaran produk yang agresif, hingga mencatatkan kurva penjualan yang melesat bak anak panah. Namun, memasuki awal tahun 2026, dominasi absolut itu tampaknya mulai menemui jalan terjal.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa ‘bulan madu’ BYD dengan pasar domestik China sedang diuji hebat. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2022, kompetitor abadi mereka, Geely, berhasil menyalip di tikungan tajam dan merebut posisi puncak penjualan selama dua bulan berturut-turut.
Rapor Merah di Awal Tahun
Mengutip data dari Carscoops, performa BYD pada dua bulan pertama tahun 2026 berjalan jauh lebih lambat dari prediksi para analis. Sepanjang Januari dan Februari, BYD hanya mampu melego 400.241 unit kendaraan. Angka ini mencerminkan terjun bebas sebesar 36 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Khusus di bulan Februari saja, BYD hanya mencatatkan penjualan 190.190 unit, alias terkoreksi 9,5 persen dari bulan sebelumnya. Jika ditarik garis perbandingan dengan Februari tahun lalu, penurunannya bahkan jauh lebih menyakitkan, yakni mencapai 41 persen.
Memang, faktor libur panjang Tahun Baru Imlek kerap menjadi kambing hitam atas lesunya daya beli. Namun, ada persoalan yang lebih sistemik: berkurangnya insentif pajak serta menurunnya kepercayaan konsumen.
Banyak calon pembeli di China kini memilih sikap wait and see, menunggu kejelasan program tukar tambah dari pemerintah sebelum benar-benar merogoh kocek.
Geely Melaju, Kompetitor Baru Mengintai
Di saat BYD sedang ngos-ngosan, Geely justru pamer otot. Performa Geely sepanjang awal tahun ini sangat impresif dengan mengirimkan sekitar 76.000 unit kendaraan lebih banyak daripada BYD. Ini adalah tamparan keras bagi BYD yang selama ini merasa nyaman di singgasana.
Tak hanya Geely, ‘pemain baru’ seperti Xiaomi juga mulai menunjukkan taji dengan kenaikan penjualan 48 persen. Belum lagi Zeekr yang melonjak drastis 84 persen, serta Nio yang pengirimannya naik 77 persen.
Fenomena ini membuktikan satu hal: pasar mobil listrik (Electric Vehicle/EV) tidak lagi menjadi panggung tunggal bagi satu merek.
CEO BYD, Wang Chuanfu, dalam sebuah pernyataan jujur mengakui adanya tekanan hebat sejak akhir tahun lalu. Ia tak menampik bahwa para rival mulai berhasil memperkecil celah teknologi yang selama ini menjadi senjata pamungkas BYD. Keunggulan mutlak yang dulu dimiliki BYD, kini mulai tumpul di hadapan inovasi pesaing yang kian gila-gilaan.
Pasar Ekspor: Harapan di Tengah Badai
Meski babak belur di kandang sendiri, BYD masih punya napas di pasar global. Popularitas mereka di luar negeri justru tetap moncer. Pada Februari saja, BYD berhasil mengekspor 100.600 unit kendaraan energi baru (NEV), baik itu listrik murni (BEV) maupun plug-in hybrid (PHEV).
Jika digabung dengan angka Januari, total ekspor BYD sudah menembus 201.082 unit. Menariknya, dalam urusan ekspor, BYD masih unggul tipis dibandingkan Geely yang mencatatkan angka 181.891 unit.
Ekspor inilah yang kini menjadi benteng terakhir bagi BYD untuk menjaga gengsi sebagai pemimpin pasar kendaraan ramah lingkungan global.
Pertanyaannya kini, mampukah BYD melakukan serangan balik di sisa tahun 2026, ataukah ini awal dari berakhirnya era keemasan mereka? Satu yang pasti, perang harga dan teknologi di tanah Tiongkok baru saja dimulai.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














