Tolak Monopoli Tiket Piala Dunia 2026, Koalisi Suporter Eropa Gugat FIFA

Tolak Monopoli Tiket Piala Dunia 2026, Koalisi Suporter Eropa Gugat FIFA

Ibnu Medium.jpeg

Rabu, 25 Maret 2026 – 02:30 WIB

Presiden Trump menerima Hadiah Perdamaian FIFA dari presiden organisasi tersebut, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia di Washington pada bulan Desember. (Foto: Getty Images)

Presiden Trump menerima Hadiah Perdamaian FIFA dari presiden organisasi tersebut, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia di Washington pada bulan Desember. (Foto: Getty Images)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Otoritas sepak bola dunia, FIFA, resmi dilaporkan ke Komisi Eropa oleh koalisi suporter sepak bola buntut penetapan harga tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai tidak masuk akal.

Kelompok advokasi suporter, Football Supporters Europe (FSE), bersama grup hak konsumen Euroconsumers, melayangkan aduan formal pada Selasa (24/3). Mereka menuding FIFA telah menyalahgunakan posisi monopolinya untuk memaksakan harga tiket yang terlampau tinggi bagi para penggemar.

Polemik ini bermula pada bulan Desember lalu, ketika FSE melontarkan kritik keras dan menyebut kebijakan FIFA sebagai “pengkhianatan monumental”. Kala itu, tiket yang dijual ke publik dibanderol mulai dari $140 (sekitar Rp2,2 juta) untuk laga fase grup termurah, hingga menyentuh angka $8.680 (sekitar Rp137 juta) untuk kursi di partai final. Bahkan, tiket termurah untuk laga puncak dipatok di angka $4.185.

Situasi diperparah karena FIFA untuk pertama kalinya menerapkan sistem dynamic pricing (harga dinamis yang menyesuaikan permintaan) pada turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tersebut.

“FIFA memegang monopoli atas penjualan tiket Piala Dunia 2026 dan telah menggunakan kekuatan tersebut untuk memaksakan kondisi kepada suporter, yang tidak akan pernah bisa diterima di pasar yang kompetitif,” tegas pernyataan bersama FSE dan Euroconsumers.

Tuntutan Penghapusan Harga Dinamis

Selain harga yang meroket, FSE juga mengklaim FIFA menggunakan taktik penjualan yang menekan pembeli dan mengkritik buruknya transparansi proses tersebut. Koalisi suporter ini menuntut agar harga tiket dibekukan pada putaran penjualan berikutnya di bulan April, serta mendesak FIFA untuk menghentikan praktik dynamic pricing saat menjual tiket kepada suporter di Eropa.

“Harga dinamis mengubah loyalitas penggemar menjadi perang penawaran, menggelembungkan biaya tanpa memberikan nilai tambah, dan mengunci akses bagi banyak suporter,” ujar Els Bruggeman, Kepala Kebijakan dan Penegakan Hukum di Euroconsumers.

Menanggapi gelombang protes di bulan Desember, FIFA sebenarnya sempat memangkas sejumlah harga tiket menjadi $60 untuk setiap babak hingga final, yang dapat didistribusikan oleh negara peserta kepada suporter paling setia mereka. Namun, kuota ini dinilai sangat minim karena hanya setara dengan 10% dari total alokasi tiket per tim untuk setiap pertandingan.

Polemik Platform Resale dan Pembelaan FIFA

Kritik tajam juga diarahkan pada platform penjualan kembali (resale) resmi milik FIFA. Di platform tersebut, tiket sering kali didaftarkan dengan harga yang jauh melampaui nilai aslinya. Dari setiap transaksi penjualan kembali ini, FIFA mengambil potongan sebesar 30%.

“FIFA menggunakan angka penjualan mereka yang belum dikonfirmasi sebagai pembenaran atas praktik tiket yang tidak adil. Padahal, kenyataannya mereka tidak menyisakan pilihan bagi suporter setia: bayar mahal atau kehilangan kesempatan,” ungkap Direktur Eksekutif FSE, Ronan Evain.

Di sisi lain, Presiden FIFA Gianni Infantino pada Januari lalu sempat menyatakan bahwa permintaan tiket Piala Dunia 2026 setara dengan “1.000 tahun Piala Dunia yang digabungkan sekaligus”. Ia meyakini seluruh 104 pertandingan akan terjual habis.

Hingga berita ini diturunkan, FIFA menyatakan kepada Associated Press bahwa mereka belum menerima laporan pengaduan tersebut secara formal. Namun, badan sepak bola dunia itu menegaskan status mereka sebagai organisasi nirlaba, di mana seluruh pendapatan dari Piala Dunia akan diinvestasikan kembali untuk pengembangan sepak bola global.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 5 times, 1 visit(s) today