Pejalan kaki melintas menyusuri trotoar dengan beberapa pedagang kaki lima dan pengemudi ojek online yang memarkirkan sepeda motornya di kawasan Jalan Sudirman-Thamrin, Senayan, Jakarta (foto:inilahcom/Didik)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) dinilai membawa konsekuensi ekonomi, terutama bagi sektor-sektor yang selama ini bergantung pada aktivitas perkantoran dan mobilitas pekerja.
Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Negeri Surabaya, Firre An Suprapto, mengatakan sektor yang paling rentan terdampak yakni transportasi hingga pelaku usaha kecil di kawasan perkantoran.
“Sektor yang paling cepat terdampak adalah transportasi berbasis permintaan seperti ojek online dan taksi online, karena mobilitas itu merupakan derived demand yang sangat bergantung pada aktivitas kerja,” ujar Firre kepada Inilah.com, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik tahun 2025, terdapat jutaan pekerja komuter di Indonesia yang melakukan perjalanan rutin setiap hari. Ketika sebagian pekerja beralih ke WFH, otomatis permintaan perjalanan harian ikut menurun.
Selain itu, UMKM makanan di kawasan perkantoran juga masuk dalam kelompok rentan. Pelaku usaha ini sangat bergantung pada konsumsi pekerja kantor, terutama untuk makan siang, kopi, hingga kebutuhan harian lainnya.
“Dalam konteks ekonomi perkotaan, ini disebut office consumption economy. Ketika WFH meningkat, konsumsi ini tidak hilang sepenuhnya tetapi berpindah lokasi ke kawasan permukiman. Namun UMKM di kawasan perkantoran tetap mengalami penurunan permintaan karena pelanggan utamanya tidak hadir secara fisik,” jelasnya.
Kelompok lain yang paling terdampak adalah pedagang informal. Berdasarkan data BPS 2025, sekitar 59 persen tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal, yang umumnya tidak memiliki kontrak kerja maupun jaminan pendapatan tetap.
“Pedagang informal adalah kelompok paling rentan karena sangat bergantung pada pendapatan harian. Ketika aktivitas perkantoran turun, mereka yang pertama merasakan dampaknya,” kata dia.
Firre mengatakan, dampak juga berpotensi dirasakan oleh transportasi publik berbasis komuter, seperti bus kota, KRL, dan angkutan perkotaan. Studi Bank Dunia menunjukkan permintaan transportasi publik sangat bergantung pada pola commuting.
“Jika pola commuting menurun akibat WFH, maka operator transportasi publik berisiko mengalami penurunan load factor,” tutur dia.
Tak hanya itu, sektor jasa pendukung aktivitas kantor juga ikut tertekan, mulai dari jasa fotokopi, percetakan, katering kantor, kurir lokal, toko ATK, hingga jasa kebersihan.
“Ini biasanya merupakan bagian dari micro urban service economy yang keberlangsungannya sangat tergantung pada keberadaan aktivitas kantor secara fisik. WFH menyebabkan berkurangnya kebutuhan layanan ini karena digitalisasi menggantikan sebagian kebutuhan fisik,” ucapnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












