Negara-negara Eropa, dipimpin Jerman dan Prancis, menyusun rencana pertahanan mandiri tanpa Amerika Serikat menyusul ancaman Donald Trump keluar dari NATO. (Foto: Shutterstock)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Benua Biru kini berada di persimpangan jalan. Kabar mengejutkan datang dari jantung pertahanan Barat. Negara-negara Eropa dilaporkan tengah sibuk menyusun rencana cadangan (Plan B) untuk mempertahankan diri secara mandiri jika Amerika Serikat (AS) benar-benar menarik diri dari keanggotaan NATO.
Melansir laporan The Wall Street Journal, Rabu (15/4/2026), momentum kemandirian militer ini kian menguat setelah Jerman—yang selama ini dikenal sebagai sekutu setia Washington—mulai balik arah memberikan dukungan. Struktur militer NATO yang sudah ada rencananya akan tetap digunakan, namun dengan kendali penuh di tangan negara-negara Eropa.
Langkah ini bukan bertujuan menyaingi Aliansi Atlantik Utara, melainkan sebagai jaring pengaman jika Washington menolak memberikan bantuan atau menarik pasukannya dari tanah Eropa.
Merz Ragukan Trump
Perubahan peta politik ini dipicu oleh keraguan mendalam Kanselir Jerman Friedrich Merz. Sang Kanselir kini secara terbuka meragukan keandalan AS sebagai penjamin keamanan utama di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Sikap dingin Berlin ini pun memicu efek domino. Dukungan mengalir deras dari Inggris, Prancis, Polandia, negara-negara Nordik, hingga Kanada. Mereka sepakat membentuk ‘koalisi sukarela’ di dalam tubuh NATO untuk memastikan kawasan tetap stabil meski tanpa kehadiran Paman Sam.
Hormuz Jadi Pemicu
Retaknya hubungan transatlantik ini mencapai titik nadir setelah negara-negara Eropa menolak membantu operasi militer AS melawan Iran. Trump, yang dikenal dengan gaya diplomasi transaksionalnya, berang.
Pada 1 April lalu, Trump secara blak-blakan mengaku sedang mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari NATO. Ia melabeli Eropa sebagai mitra yang tidak bisa diandalkan setelah mereka menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Ketegangan ini sejatinya sudah terendus sejak 2025, dan kian memanas saat Trump sempat melontarkan rencana kontroversial untuk mengambil alih Greenland.
Kejar Ketertinggalan Militer
Menghadapi risiko ditinggal sekutu terbesarnya, para pendukung “Eropa Mandiri” ini menyerukan langkah ekstrem. Di antaranya adalah pemberlakuan wajib militer serta percepatan produksi pertahanan besar-besaran.
Eropa sadar mereka masih tertinggal jauh dari AS dalam beberapa sektor krusial, seperti kemampuan perang anti-kapal selam, teknologi ruang angkasa, intelijen, pengisian bahan bakar di udara, hingga mobilitas udara.
Kini, pilihannya hanya dua bagi Eropa: tetap bergantung pada janji Washington yang kian tak pasti, atau mulai berdiri di atas kaki sendiri.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










