Iga Swiatek saat bermain di Rafa Nadal Academy, akademi milik petenis legendaris Rafael Nadal. (Foto Instagram @iga.swiatek)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Daftar peserta utama Roland Garros 2026 resmi diumumkan, dan atmosfer di Stade Roland Garros dipastikan bakal lebih membara dari biasanya.
Di tengah dominasi Aryna Sabalenka sebagai nomor satu dunia dan Coco Gauff yang datang sebagai juara bertahan, ada satu nama yang justru paling menebar ancaman meski posisinya kini terlempar dari tiga besar dunia: Iga Swiatek.
Bagi Swiatek, Paris bukan sekadar turnamen. Ini adalah “halaman rumahnya”. Meski secara peringkat ia tidak lagi memimpin di atas kertas, petenis asal Polandia ini datang dengan misi tunggal yang sangat ambisius: mencetak sejarah besar.
Pelatih Baru Spesialis Tanah Liat
Swiatek memutuskan berpisah dengan Wim Fissette dan berpaling pada sosok yang sudah sangat paham “resep juara” di lapangan tanah liat, Francisco Roig.
Pilihan Swiatek jatuh kepada Francisco Roig bukan tanpa alasan. Roig adalah arsitek di balik layar yang menemani Nadal selama 17 tahun (2005-2022), periode di mana Nadal mengoleksi 22 gelar Grand Slam.
Swiatek berharap “tangan dingin” Roig mampu mengembalikan konsistensinya yang sempat goyah. Dengan gaya bermain yang agresif namun terkadang mudah ditebak, kehadiran Roig diharapkan bisa menyuntikkan variasi pukulan dan ketangguhan mental khas petenis Spanyol ke dalam permainan Swiatek.
Mengejar Takhta Evert dan Graf
Swiatek, yang telah mengoleksi empat gelar di Paris (2020, 2022-2024), kini membidik gelar kelimanya. Jika berhasil mengangkat Piala Suzanne-Lenglen tahun ini, ia akan resmi berdiri sejajar dengan para legenda abadi era Open, Chris Evert (7 gelar) dan Stefanie Graf (6 gelar), sebagai pemain tersukses di tanah liat Paris.
Statusnya yang tidak lagi berada di peringkat tiga besar justru menjadikannya “kuda hitam paling mematikan”. Tekanan besar kini berpindah ke pundak Aryna Sabalenka dan Coco Gauff, sementara Swiatek bisa fokus penuh merebut kembali takhtanya di permukaan favoritnya.
Kepungan Para Raksasa
Langkah Swiatek tentu tidak akan mudah. Turnamen tahun ini menjadi salah satu yang paling kompetitif dalam sejarah karena dihadiri oleh 100 dari 101 pemain terbaik dunia.
Coco Gauff, yang memenangkan gelar Grand Slam keduanya di Paris tahun lalu, bertekad membuktikan bahwa kemenangannya bukanlah kebetulan.
Sementara itu, Sabalenka yang masih penasaran setelah menjadi finalis tahun 2025, serta Elena Rybakina yang tengah dalam performa puncak, siap menjegal ambisi Swiatek.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














