Abdillah Toha: Intelektual Publik Penjaga Akal Sehat

Abdillah Toha: Intelektual Publik Penjaga Akal Sehat

Indonesia kembali kehilangan salah satu suara jernihnya. Abdillah Toha wafat di Jakarta pada usia 84 tahun, meninggalkan jejak panjang sebagai intelektual publik, politisi, pengusaha, dan pemikir Muslim yang sepanjang hidupnya berusaha menjaga akal sehat di tengah hiruk-pikuk politik nasional. 

Kepergiannya bukan hanya kehilangan seorang tokoh, melainkan hilangnya salah satu generasi yang tumbuh dengan keyakinan bahwa pengetahuan, integritas, dan keberanian moral harus berjalan bersama.

Abdillah Toha lahir di Solo pada 29 April 1942, dari generasi yang mengalami pergolakan Indonesia sejak masa awal kemerdekaan. Namun, yang membuatnya berbeda adalah kemampuannya menjelajahi begitu banyak dunia tanpa kehilangan kejernihan berpikir. 

Ia bergerak di ranah akademik, bisnis, politik, media, hingga gerakan masyarakat sipil. Di setiap ruang itu, ia membawa watak yang sama: rasional, tenang, argumentatif, tetapi tetap santun.

Pendidikan Abdillah di Faculty of Economics and Commerce, University of Western Australia menjadi salah satu fondasi penting pembentukan intelektualitasnya. Ia lulus dengan predikat First Class Honors dan meraih J.A. Wood Memorial Award, sebuah capaian akademik yang menunjukkan kapasitas intelektualnya sejak muda. 

Menariknya, di universitas yang sama pula, Boediono —yang kelak menjadi Wakil Presiden RI—menempuh studi ekonomi. Keduanya kemudian dipertemukan kembali dalam pengabdian negara ketika Abdillah menjadi staf penasihat bidang strategi kebijakan kenegaraan pada masa pemerintahan Boediono.

Namun, Abdillah bukan tipe intelektual menara gading. Seusai kuliah, ia mengajar Operations Research dan melakukan riset pemasaran. Hidupnya kemudian bergerak lebih luas. Ia masuk ke dunia perbankan internasional, perusahaan multinasional, konsultasi keuangan, hingga bisnis penerbitan. 

Dari Bank of America hingga Touche Ross Indonesia, dari Jan Darmadi Corporation hingga Investrade Group, Abdillah memperlihatkan satu hal penting: kemampuan memadukan pemikiran akademik dengan praktik dunia nyata.

Barangkali karena itulah pandangan-pandangannya tentang politik dan ekonomi selalu terasa membumi. Tulisan-tulisannya di media cetak maupun digital tidak pernah terjebak pada jargon kosong. Ia mampu menjelaskan masalah bangsa dengan bahasa yang terang tanpa kehilangan kedalaman. Dalam banyak hal, Abdillah adalah contoh klasik seorang public intellectual, intelektual publik yang menggunakan pengetahuannya untuk menerangi ruang demokrasi.

Salah satu warisan penting Abdillah yang layak dikenang adalah kiprahnya di dunia pers. Ia adalah pemilik Majalah Ummat, salah satu majalah berita paling berpengaruh menjelang Reformasi 1998. Pada masa ketika ruang kebebasan pers masih dibatasi negara, Ummat hadir bukan sekadar sebagai media berita, melainkan ruang artikulasi kritik sosial-politik yang berani dan tercerahkan. Dalam periode tertentu, majalah ini bahkan menjadi majalah berita terbesar ketiga setelah Tempo dan Forum.

Di tangan Abdillah Toha, Ummat bukan hanya media bisnis, tetapi arena pembentukan kesadaran publik. Majalah ini dikenal berani menangkap denyut perubahan sosial-politik menjelang runtuhnya Orde Baru. Ketika banyak media masih berhati-hati, Ummat justru memberi ruang bagi suara-suara kritis dan tokoh pembaruan.

Pilihan majalah itu menobatkan Amien Rais sebagai Man of the Year 1997 dan Munir Said Thalib pada 1998 menjadi penanda keberpihakan moralnya pada gerakan reformasi dan perjuangan hak asasi manusia. Itu bukan sekadar penghargaan editorial, melainkan sikap politik dan etika di tengah situasi nasional yang tegang.

Momentum sejarah terbesar Abdillah Toha tentu hadir pada 1998. Ketika rezim Orde Baru runtuh dan Indonesia memasuki gerbang Reformasi, ia ikut menjadi bagian dari kelompok pendiri Partai Amanat Nasional bersama Amien Rais, Goenawan Mohamad, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya. 

Di masa itu, mendirikan partai bukan sekadar aktivitas politik praktis, melainkan ikhtiar membangun demokrasi baru setelah puluhan tahun otoritarianisme.

Abdillah hadir sebagai salah seorang formatur pertama dan Ketua DPP PAN. Namun yang menarik, ia tidak pernah tampak sebagai politikus yang menikmati hingar-bingar kekuasaan. Ia lebih terlihat sebagai penjaga etika politik di tengah pragmatisme yang makin menguat. 

Sikap kritisnya bahkan tetap muncul ketika kritik itu harus diarahkan kepada kelompok politiknya sendiri. Di sinilah letak keistimewaannya: loyalitasnya bukan pertama-tama kepada partai, melainkan kepada nilai.

Ketika menjadi anggota DPR RI periode 2004–2009, Abdillah duduk di Komisi I dan menjadi Ketua Fraksi PAN. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI serta Vice President Executive Committee dari Inter-Parliamentary Union (IPU) di Jenewa. Posisi-posisi itu menunjukkan pengakuan internasional terhadap kapasitas diplomasi dan pemikirannya.

Namun, mungkin warisan terbesar Abdillah bukanlah jabatan-jabatan itu. Warisan terbesarnya adalah keteladanan seorang Muslim modernis yang terbuka, rasional, dan toleran. 

Keterlibatannya dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Paramadina, dan berbagai lembaga sosial menunjukkan komitmennya pada pengembangan masyarakat sipil yang sehat. Ia percaya bahwa Islam harus hadir sebagai kekuatan etik dan pencerahan, bukan sekadar simbol politik.

Pilihan hidupnya di dunia penerbitan melalui Mizan juga penting dicatat. Di tengah industri media yang sering dikendalikan logika pasar semata, Abdillah ikut membangun ruang literasi yang memperkaya pemikiran Islam Indonesia. 

Mizan menjadi salah satu penerbit yang memperkenalkan banyak karya penting tentang agama, filsafat, dan kemanusiaan kepada publik Indonesia. Di sini terlihat bahwa Abdillah memahami perubahan bangsa tidak hanya dibangun lewat parlemen, tetapi juga lewat buku dan gagasan.

Kepergian Abdillah Toha menghadirkan refleksi mendalam tentang krisis intelektualisme dalam politik Indonesia hari ini. Kita hidup di zaman ketika percakapan publik sering dipenuhi kebisingan, sensasi, dan polarisasi. Dalam situasi seperti itu, sosok seperti Abdillah terasa makin langka: seorang yang berpikir mendalam tetapi tidak merasa paling benar, seorang politikus yang tetap menjaga kesantunan, serta seorang pengusaha yang tetap peduli pada pendidikan dan literasi.

Ia adalah generasi yang percaya bahwa demokrasi memerlukan akal sehat, dan akal sehat hanya bisa hidup bila dirawat oleh pengetahuan, etika, dan keberanian moral.

Kini Abdillah Toha telah pergi. Namun gagasan, tulisan, dan keteladanannya akan tetap tinggal sebagai pengingat bahwa politik tidak harus kehilangan nurani, dan intelektualitas tidak boleh menjauh dari kepentingan publik. Di tengah bangsa yang terus mencari arah, jejak hidup Abdillah Toha akan tetap menjadi salah satu lentera kecil yang menerangi perjalanan Indonesia.

Visited 3 times, 1 visit(s) today