Berkat Sinergi dengan Pusat dan Daerah, BI Catat Inflasi Mei 2026 Terjaga dalam Target

Berkat Sinergi dengan Pusat dan Daerah, BI Catat Inflasi Mei 2026 Terjaga dalam Target

Iwan Medium.jpeg

Rabu, 3 Juni 2026 – 10:57 WIB

Pedagang melayani pembeli di Pasar Tradisional Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/6/2026). (Foto: ANTARA/Novrian Arbi/tom).

Pedagang melayani pembeli di Pasar Tradisional Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/6/2026). (Foto: ANTARA/Novrian Arbi/tom).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sepanjang Mei 2026, Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) terjaga 1,5 persen hingga 3,5 persen. Buah konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso di Jakarta, dikutip Rabu (3/6/2026), mengatakan, bank sentral bersama pemerintah pusat dan daerah, bersinergi dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).

Di samping itu, BI dan pemerintah juga memperkuat implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional. Diyakini, inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen atau rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen pada 2026 dan 2027.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Selasa (2/6/2026), IHK pada Mei 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Inflasi inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,22 persen (mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,23 persen (mtm).

Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi terutama oleh kenaikan harga minyak goreng di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.

Secara tahunan, inflasi inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,59 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,44 persen (yoy).

Selanjutnya, kelompok volatile food pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,22 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar 0,88 persen (mtm).

Inflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras seiring penurunan pasokan yang disebabkan oleh gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan berakhirnya musim panen raya di tengah kenaikan permintaan pada hari besar keagamaan nasional (HBKN) Idul Adha.

Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 6,24 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,37 persen (yoy).

BI menyampaikan bahwa ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara BI bersama TPIP dan TPID, serta penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Sementara itu, kelompok administered prices pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,52 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,69 persen (mtm).

Inflasi kelompok administered prices terutama disumbang oleh komoditas bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara seiring dengan penyesuaian harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi, bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, dan avtur akibat kenaikan harga energi global.

Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 2,07 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,53 persen (yoy).

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 6 times, 1 visit(s) today