Ilustrasi – Pemberian makan bergizi gratis (MBG) kepada siswa SDN Bangka 01 Pagi, Jakarta, Senin (13/1/2025). (Foto: Antara/Luthfia Miranda Putri)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menegaskan penajaman fokus ini merupakan langkah strategis untuk memastikan intervensi gizi memberikan dampak paling optimal bagi masa depan generasi Indonesia.
“Intervensi gizi itu paling bagus adalah saat mulai kandungan bulan pertama sampai usia 9 tahun atau sampai SD. Nah, kita yang kejar ke sana,” ujar Agustina usai rapat dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, dikutip Kamis (18/06/2026).
Pendekatan ini sejalan dengan konsensus ilmiah global yang telah diadopsi oleh World Health Organization (WHO), UNICEF, dan Kementerian Kesehatan RI, bahwa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dihitung sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan jendela emas yang paling kritis dan tidak dapat diulang dalam tumbuh kembang seorang anak.
Pada periode inilah otak berkembang paling pesat, membentuk hingga 80 persen dari kapasitas otak dewasa, serta menjadi penentu utama kecerdasan kognitif, kekuatan imun, dan kesehatan jangka panjang.
Intervensi gizi yang tepat sasaran pada periode ini merupakan cara paling efektif untuk memutus mata rantai stunting sejak akarnya.
Secara umum, pedoman gizi Kemenkes menggariskan manfaat spesifik intervensi di setiap fase: pemenuhan mikronutrien penting bagi ibu hamil untuk mencegah bayi lahir dengan Berat Badan Lahir.
Rendah (BBLR), dukungan nutrisi bagi ibu menyusui untuk menjaga kualitas ASI eksklusif, serta penguatan sistem imun dan kesiapan tumbuh kembang bagi balita menjelang pendidikan formal.
Memperluas Jangkauan ke Daerah 3T
Sejalan dengan penajaman sasaran, pemerintah juga memperkuat komitmen untuk memperluas layanan ke wilayah yang selama ini paling membutuhkan. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menegaskan, SPPG akan didorong masuk ke daerah-daerah terpencil.
“Fokus ke depan pembangunan SPPG di daerah 3T atau daerah terpencil sehingga kelompok-kelompok yang paling rentan ini bisa mendapatkan manfaat secara maksimal,” ujar Qodari dalam keterangan pers di Jakarta, ditulis (18/6/2026).
Penyaluran MBG untuk kelompok 3B ditujukan untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita Non-PAUD, telah berjalan di sejumlah daerah melalui mekanisme posyandu dengan melibatkan kader kesehatan di tingkat desa, sebagaimana dijalankan berdasarkan Pedoman Teknis BGN dan kerja sama dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN).
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














