OJK mencatat nilai kapitalisasi pasar meningkat sebesar 3,45 persen ytd per 30 April 2024 meskipun pasar saham domestik terkoreksi akibat tekanan di pasar saham global sebagai dampak gejolak geopolitik dunia. (Foto: Inilah.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International disingkat MSCI kembali bikin ulah di Indonesia dengan menurunkan peringkat arus informasi (information flow) pasar modal Indonesia dari positif ke negatif.
Ternyata, menurut Direktur Utama (Dirut) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, akar masalahnya sepele. Yakni, MSCI mempersoalkan tidak adanya informasi emiten dalam bahasa Inggris. Hal ini dianggap menyulitkan investor global.
“Itu informasi yang dimaksud yang mana? Sesuai dengan peraturan bursa, seluruh laporan keuangan harus disampaikan dalam dua bahasa,” ujar Jeffrey, dikutip Minggu (21/6/2026).
Atas kesimpulan itu, MSCI membekukan rebalancing konstituen dari Indonesia, hingga menurunkan aspek transparansi bursa saham di Indonesia.
Atas penilaian tersebut, Jeffrey akan meminta klarifikasi langsung ke MSCI terkait poin tersebut. Apakah ketersediaan informasi dalam bahasa Inggris juga termasuk pihak lain di lingkungan pasar modal, selain emiten.
Klarifikasi tersebut, lanjut Jeffrey, wajib dilakukan karena otoritas bursa sudah berupaya optimal dalam meningkatkan transparansi di pasar saham domestik dalam beberapa bulan terakhir.
“Tentu dari pihak MSCI juga nanti perlu melakukan klarifikasi beberapa hal. Misalnya, terkait dengan data, data yang ini kaitannya dengan apa, klarifikasi dan diskusi itu rutin dilakukan,” jelas Jeffrey.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, pemerintah memandang catatan MSCI adalah penegasan atas arah agenda reformasi pasar modal yang telah dan sedang berjalan.
Dia bilang, catatan MSCI justru menegaskan fundamental ekonomi dan akses pasar modal di Indonesia, masih tetap kuat.
“Yang menjadi perhatian adalah aspek transparansi dan integritas pasar, di sinilah pemerintah bersama OJK dan BEI, selalu melakukan reformasi secara konkret. Mulai dari penyesuaian free float, keterbukaan pemilik manfaat akhir, hingga pendalaman pasar,” ujar Menko Airlangga di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Dalam laporan MSCI, menggarisbawahi akses, ukuran, dan likuiditas pasar Indonesia dinilai tetap memadai, dan tidak terdapat isu pembatasan kepemilikan asing yang menjadi sorotan pada tinjauan tahun ini.
Ruang perbaikan yang disoroti berfokus kepada peningkatan kualitas keterbukaan struktur kepemilikan saham dan penguatan integritas pembentukan harga.
Menko Airlangga menilai, area tersebut memang tengah menjadi prioritas reformasi pemerintah bersama otoritas. Catatan atas penyediaan informasi pasar dalam bahasa Inggris pun, siap dioptimalkan guna meningkatkan kemudahan akses bagi investor global.
Secara agregat, MSCI menyatakan, pada siklus tahun ini terdapat lebih banyak perbaikan dibandingkan penurunan penilaian di kelompok emerging markets. Penyesuaian penilaian aksesibilitas pasar pada 2026 hanya dialami Indonesia dan Turki.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














