Pakistan: Perundingan Teknis AS-Iran akan Dilanjutkan Pekan Depan

Pakistan: Perundingan Teknis AS-Iran akan Dilanjutkan Pekan Depan

Pemerintah Pakistan memastikan bahwa perundingan teknis antara Amerika Serikat (AS) dan Iran bakal kembali dilanjutkan pada pekan depan, seiring upaya kedua negara itu mematangkan persiapan menuju kesepakatan damai final yang ditargetkan rampung dalam 60 hari ke depan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menegaskan bahwa penghentian pembicaraan ini sama sekali bukan pertanda kebuntuan, melainkan bagian dari proses untuk merapikan barisan.

“Perundingan teknis akan dilanjutkan pekan depan. Ini murni hanya jeda sementara dan pembicaraan akan terus berlanjut,” ujarnya kepada wartawan di Islamabad, Rabu (24/6/2026).

Pertemuan teknis ini rencananya bakal langsung digeber pada awal pekan, menyambung diskusi maraton yang telah menguras waktu berjam-jam antara delegasi Washington dan Teheran di Burgenstock, Swiss, pada Senin lalu (22/6/2026).

Andrabi menjelaskan, tim teknis dari negara mediator yang dimotori oleh Pakistan dan Qatar akan bahu-membahu bekerja sama dengan perwakilan AS dan Iran dalam beberapa pekan ke depan. Langkah krusial ini diambil guna mengawal jalannya implementasi Nota Kesepahaman Islamabad, yang memang dirancang khusus sebagai pijakan untuk mengunci perjanjian damai permanen dalam kurun waktu dua bulan.

Keberadaan nota kesepahaman yang diteken langsung oleh presiden AS dan Iran pekan lalu, ditambah intensitas pertemuan di Swiss, menjadi bukti sahih betapa jalur dialog dan diplomasi masih menjadi senjata paling ampuh untuk meredam ketegangan geopolitik.

Akhiri Kebuntuan 47 Tahun

Di tempat terpisah, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar tampil penuh percaya diri saat berbicara di hadapan Majelis Nasional. Ia blak-blakan membeberkan betapa sentralnya peran Islamabad dalam memfasilitasi dialog alot tersebut, bahkan sukses menyeret AS dan Iran untuk duduk bareng di satu meja perundingan setelah melewati masa permusuhan panjang dan melelahkan selama 47 tahun.

Dar menuturkan, demi memuluskan jalan damai ini, negaranya terus merawat komunikasi tingkat tinggi dengan kedua belah pihak. Tak sendirian, Pakistan juga menggandeng sederet negara kunci seperti Qatar, Arab Saudi, Mesir, dan Turkiye untuk terus mendorong terwujudnya gencatan senjata yang solid di kawasan.

Praktis, Pakistan kini telah menjelma menjadi saluran komunikasi utama yang menghubungkan urat nadi diplomasi antara Washington dan Teheran, terutama untuk memastikan jalannya perundingan teknis pasca-kesepakatan di Islamabad tidak layu sebelum berkembang.

Akses Selat Hormuz Kembali Terbuka

Buah manis dari rentetan negosiasi tingkat tinggi ini pun mulai bisa dirasakan langsung dampaknya di perairan. Menurut Dar, begitu kesepakatan awal ini tercapai, Amerika Serikat tak ragu untuk langsung menarik jangkar dan mengakhiri blokade laut yang selama ini mereka terapkan.

“Saat ini Selat Hormuz terbuka lebar dan sama sekali tidak ada biaya, pungutan tambahan, maupun rentetan persyaratan izin yang berbelit bagi kapal-kapal komersial yang hendak melintas di jalur perairan tersebut,” tegas Dar di hadapan para anggota parlemen.

Sebagai penutup, ia dengan bangga menyebut bahwa posisi Pakistan kini makin disegani dan diakui oleh dunia internasional. Publik global tak lagi melihat Islamabad sekadar sebagai pengamat, melainkan sebagai sang ‘pencipta perdamaian’ sekaligus ‘penyedia keamanan bersih’ di kawasan yang selama ini lekat dengan stigma pusaran konflik.

Visited 3 times, 3 visit(s) today