Bukan Sekadar Kecelakaan, KPAI Sebut Lubang Maut di Tebet Bukti Lalainya Sistem

Bukan Sekadar Kecelakaan, KPAI Sebut Lubang Maut di Tebet Bukti Lalainya Sistem

Icon_INILAH GOLD.png

Selasa, 30 Juni 2026 – 01:10 WIB

Lokasi proyek di Tebet tempat terjatuhnya balita I (4), Senin (29/6/2026).(Foto: inilah.com/Wahyu Praditya)

Lokasi proyek di Tebet tempat terjatuhnya balita I (4), Senin (29/6/2026).(Foto: inilah.com/Wahyu Praditya)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai tragedi tewasnya balita berusia empat tahun yang terperosok ke lubang proyek di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, bukan sekadar kecelakaan biasa. Peristiwa tersebut disebut sebagai bukti nyata lemahnya sistem pengamanan proyek di ruang publik.

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menegaskan, kejadian ini harus dilihat secara utuh sebagai bentuk kelalaian yang berpotensi membahayakan kelompok rentan, khususnya anak-anak.

“Ini bukan sekadar kecelakaan. Ada sistem yang lalai dalam memastikan keamanan ruang publik, terutama di area proyek yang terbuka dan mudah diakses,” kata Jasra, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, selama ini maraknya proyek galian di Jakarta telah memicu banyak keluhan masyarakat. Selain mengganggu aktivitas, proyek-proyek tersebut kerap meninggalkan lubang terbuka yang berisiko tinggi.

“Galian untuk saluran air, jaringan kabel, utilitas, hingga penataan taman sering kali tidak diiringi pengamanan yang memadai. Padahal, lubang-lubang ini berbahaya selama 24 jam,” ujarnya.

KPAI menekankan bahwa standar keselamatan proyek di ruang publik harus disusun dengan mempertimbangkan karakteristik anak sebagai kelompok paling rentan. Pengamanan, kata Jasra, tidak cukup hanya dengan garis pembatas atau papan peringatan.

“Harus ada sistem yang benar-benar mencegah anak masuk ke area berbahaya, bukan sekadar formalitas,” tegasnya.

Selain itu, KPAI juga mengingatkan agar proses penyelidikan tidak mengaburkan penyebab utama kematian korban. Narasi yang menyebut korban sempat hidup saat dievakuasi dinilai berpotensi menggeser fokus dari akar masalah.

“Tidak tepat jika kemudian seolah-olah kematian bukan akibat lubang tersebut. Anak-anak tidak memiliki daya tahan seperti orang dewasa,” katanya.

Jasra menambahkan, tragedi di Tebet seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap keamanan ruang publik. Ia juga menyinggung kasus serupa sebelumnya, yakni meninggalnya seorang anak di kawasan Taman Radio Dalam akibat dugaan tersengat listrik.

“Kalau kejadian-kejadian ini tidak ditindaklanjuti dengan pembenahan sistem dan penegakan hukum yang tegas, maka potensi korban berikutnya akan terus ada,” ujarnya.

Sebelumnya, balita berinisial I (4) meninggal dunia setelah terjebak sekitar empat jam di dalam lubang proyek pembangunan lapangan multifungsi di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Korban sempat dievakuasi dalam kondisi hidup, namun meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

KPAI menegaskan, tragedi tersebut menjadi peringatan keras bahwa ruang publik belum sepenuhnya aman, dan kelalaian dalam pengamanan proyek bisa berujung pada hilangnya nyawa.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 3 times, 3 visit(s) today