Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026, dinamika perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat.
Di tengah menguatnya komunikasi politik tingkat wilayah dan cabang, nama Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa disebut semakin menguat setelah mendapat dukungan dari sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).
Cucu ulama besar Syekh Nawawi Al-Bantani itu mengaku siap mengikuti kontestasi apabila mendapat mandat dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) sebagai pemilik hak suara dalam Muktamar.
Kiai Zulfa menegaskan dirinya tidak pernah memiliki ambisi pribadi untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU. Namun, ia menilai aspirasi yang datang dari struktur organisasi merupakan amanah yang tidak bisa diabaikan.
“Kalau aspirasi dari cabang dan wilayah meminta, itu sangat kuat. Saya tidak bisa menolak,” kata Kiai Zulfa usai peluncuran kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta seperti dikutip, Minggu (12/7/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah menguatnya komunikasi politik menjelang Muktamar. Sejumlah pengurus NU di tingkat wilayah maupun cabang disebut mulai menyampaikan dukungan kepada Kiai Zulfa untuk ikut dalam proses suksesi kepemimpinan PBNU.
Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab mengatakan dorongan tersebut terus mengalir dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, banyak pengurus PWNU dan PCNU datang secara langsung menemui Kiai Zulfa agar bersedia maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.
“Beberapa bulan terakhir banyak pengurus wilayah dan pengurus cabang yang datang langsung kepada Kiai Zulfa dan meminta beliau ikut mengambil bagian dalam proses suksesi kepemimpinan di Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Gus Aab menilai munculnya dukungan tersebut tidak terlepas dari harapan sebagian warga Nahdliyin agar kepemimpinan PBNU ke depan menghadirkan pembaruan organisasi.
“Mereka menyampaikan harapan akan adanya perbaikan pada tubuh Nahdlatul Ulama. Kiai Zulfa dipandang sebagai ikon perubahan yang dibutuhkan NU saat ini,” katanya.
Senada, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas menyebut dorongan terhadap Kiai Zulfa tidak hanya datang dari tingkat cabang dan wilayah, tetapi juga dari sejumlah tokoh di lingkungan PBNU.
Ia menegaskan Kiai Zulfa hingga kini tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum PBNU. Aspirasi justru muncul dari para pengurus yang menginginkan dirinya ikut dalam kontestasi Muktamar.
“Beliau tidak pernah menyatakan mencalonkan diri. Justru aspirasi itu datang dari banyak pengurus cabang, pengurus wilayah, sampai dari PBNU sendiri yang mendorong beliau untuk maju,” ujar Taufik.
Meski demikian, dinamika menuju Muktamar dinilai masih sangat cair. Seluruh proses pencalonan maupun pemilihan Ketua Umum PBNU tetap berada di tangan PWNU dan PCNU sebagai pemegang mandat dalam forum Muktamar.
“Kita lihat nanti siapa yang akan maju dalam Muktamar. Semuanya tentu bergantung pada aspirasi pengurus wilayah dan pengurus cabang sebagai pemilik mandat,” pungkasnya.










