Jannik Sinner dan Alexander Zverev akan berebut gelar juara Wimbledon dalam final antara petenis nomor satu dunia dan juara Grand Slam terbaru di All England Club, London, Minggu malam WIB.
Zverev masuk final dengan kepercayaan diri tinggi setelah menjuarai French Open bulan lalu, yang mengubah perjalanan karier petenis Jerman berusia 29 tahun itu yang sebelumnya selalu gagal meraih trofi Grand Slam.
“Setelah juara Grand Slam, Anda tahu bagaimana cara melakukannya dan merasa bisa melakukannya lagi,” ujar Zverev dalam laman ATP.
Final Wimbledon menjadi peluang Zverev untuk membuat sejarah sebagai petenis putra pertama pada era Open yang dua kali berturut-turut menjuarai Grand Slam.
Ia juga berpeluang menjadi petenis ketujuh yang menjuarai French Open dan Wimbledon pada tahun yang sama.
Catatan pertemuan menjadi tantangan besar bagi Zverev. Ia kalah dalam sembilan laga terakhir melawan Sinner dan belum pernah menghadapi petenis Italia itu dalam pertandingan level tur di lapangan rumput.
Namun, karakter Wimbledon dapat memberikan harapan bagi Zverev. Servis keras petenis bertinggi 198 sentimeter itu menjadi senjata utama di permukaan lapangan cepat dengan pantulan bola rendah.
Sinner menyadari ancaman tersebut dan memperkirakan final akan berjalan berbeda dibandingkan pertemuan mereka sebelumnya.
Petenis Italia berusia 24 tahun itu melangkah ke final dengan performa impresif setelah menyingkirkan Novak Djokovic dalam semifinal.
Ia tampil dominan sepanjang dua pekan terakhir Wimbledon, tidak kehilangan satu set pun sejak kemenangan lima set pada laga pembuka melawan Miomir Kecmanovic.
“Kepercayaan dirinya bagus dan dia sangat rileks di lapangan,” kata Sinner mengenai penampilan Zverev.
Unggulan teratas itu mengincar gelar Grand Slam kelima dalam kariernya setelah melewati musim yang penuh tantangan.
Sinner tersingkir dalam semifinal Australian Open oleh Djokovic dan gagal mempertahankan keunggulan dua set saat menghadapi Juan Manuel Cerundolo dalam French Open.
Namun, Sinner menunjukkan kembali konsistensinya dengan mencatat 30 kemenangan beruntun pada awal musim dan merebut lima gelar ATP Masters 1000 secara berturut-turut.
Modal tersebut memperkuat statusnya sebagai salah satu pemain paling dominan di tenis putra saat ini.
Zverev juga membawa catatan positif setelah meraih 11 kemenangan beruntun dalam turnamen Grand Slam, sementara hasil final ini akan semakin menentukan peta persaingan tenis putra dunia. Ia dipastikan menggantikan Carlos Alcaraz sebagai petenis nomor dua dunia setelah Wimbledon.
Pertarungan Sinner dan Zverev pun menjadi duel antara konsistensi sang pemuncak peringkat dunia dan ambisi juara Grand Slam baru yang ingin membuktikan dirinya.













