Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan, penguatan kemandirian energi dan keberlanjutan program hilirisasi, menjadi kunci bagi Indonesia keluar dari middle-income trap.
Selain itu, kata Satya, hilirisasi juga menjadi kunci dalam mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Hal itu, merujuk pada implementasi Astacita, khususnya poin kedua dan kelima, maka pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, yang dipimpin Menteri ESDM, menjadi instrumen krusial.
“Satgas menjadi instrumen penting untuk memangkas birokrasi, menguraikan hambatan operasional (debottlenecking), serta menyelaraskan regulasi lintas kementerian agar pengolahan komoditas di dalam negeri melalui pembangunan smelter mampu memberikan efek berlipat ganda dan meningkatkan daya saing nasional,” ujar Satya dalam kuliah umum Program Studi Magister Manajemen Universitas Indonesia (MM UI) secara daring, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Kegiatan akademis yang berfokus pada upaya memperkuat sistem keandalan energi nasional demi menyongsong visi Indonesia Emas 2045 tersebut, dihadiri jajaran pimpinan program studi, akademisi, dan lebih dari 120 peserta mahasiswa magister.
Dalam paparannya, Satya membagikan perspektif strategis dari sudut pandang regulator dan pemerintah mengenai pentingnya penataan regulasi, kolaborasi lintas sektoral, serta percepatan hilirisasi industri sebagai pilar utama transformasi ekonomi nasional menuju negara maju.
Ia juga menggarisbawahi bahwa pencapaian ketahanan energi nasional tidak dapat berdiri secara terpisah dari sektor pendukung lainnya.
Energi merupakan penggerak utama bagi seluruh rantai nilai ekonomi, mulai dari sektor industri, komersial, transportasi, hingga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Menghadapi tantangan dinamika geopolitik global dan gejolak di kawasan Timur Tengah, Hangga menyampaikan tingkat ketahanan energi Indonesia terbukti cukup tangguh dan resilien.
Pemerintah berkomitmen menjaga ketersediaan pasokan BBM serta LPG bersubsidi di atas batas minimum nasional untuk memastikan kestabilan harga dan aksesibilitas bagi masyarakat.
Di saat yang sama, tambahnya, berbagai langkah konkret transisi energi terus didorong, seperti keberlanjutan program mandatori biodiesel hingga B50 untuk menghentikan ketergantungan impor solar, hingga pemanfaatan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sebagai solusi pelengkap yang efektif dalam mengurai penumpukan sampah di TPA sekaligus menghasilkan energi listrik yang lebih ramah lingkungan.
Dia menekankan, keberhasilan seluruh agenda transisi energi dan pencapaian target net zero emission (NZE) pada akhirnya sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia yang unggul.
Menjelang 100 tahun Kemerdekaan Indonesia pada 2045, generasi muda, khususnya milenial dan gen Z, diimbau untuk bersiap mengambil peran kepemimpinan lintas sektor dan mengisi peluang lapangan kerja hijau (green jobs) yang kian berkembang.
“Kebijakan Kementerian ESDM akan terus dirancang secara seimbang guna menciptakan iklim investasi EBT, yang kondusif bagi para pelaku usaha, sembari tetap menjaga prinsip
keterjangkauan harga (affordability) bagi seluruh lapisan masyarakat,” sebut Satya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











