FIFA menyampaikan permintaan maaf atas kesalahan yang terjadi dalam rencana penjualan saham Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan. Meski begitu, badan sepak bola dunia itu menegaskan jajaran manajemennya tetap memberikan dukungan penuh kepada Presiden Gianni Infantino.
Pernyataan tersebut dirilis pada Rabu (5/8/2026), seusai pertemuan tingkat tinggi yang digelar di Maroko. FIFA berusaha menampilkan wajah solid di tengah gelombang tekanan yang menuntut Infantino mundur dari jabatannya.
Dalam pernyataannya, FIFA menyebut Sekretaris Jenderal Mattias Grafström dan anggota dewan manajemen yang hadir dalam pertemuan itu menegaskan kembali dukungan penuh mereka kepada sang presiden.
Pengakuan atas Kesalahan Proses
Rencana yang memicu krisis adalah penjualan keuntungan Piala Dunia melalui anak perusahaan komersial bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Terkait hal itu, FIFA menyatakan kesalahan yang dibuat telah diakui dan prosesnya semestinya ditangani dengan cara berbeda.
FIFA menyebut surat permintaan maaf telah dikirimkan kepada Dewan FIFA dan asosiasi anggota. Organisasi tersebut berkomitmen memastikan kesalahan serupa tidak terulang.
“Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik, dan FIFA akan terus memperbaiki prosesnya berdasarkan pengalaman ini,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Namun di paragraf lain, nadanya berubah keras. FIFA menyatakan tidak akan lagi menoleransi serangan apa pun terhadap integritas, tata kelola yang baik, dan due process organisasi. Mereka menegaskan akan mengambil segala langkah yang diperlukan untuk melindungi nama dan reputasinya.
Dukungan Grafström menjadi catatan menarik. Sebelumnya, ia justru menjaga jarak dari rencana Infantino lewat surel kepada seluruh staf FIFA. Dalam surel itu, ia menyebut sepekan terakhir sebagai rangkaian peristiwa yang menyedihkan dan patut disesalkan. FIFA menyatakan Infantino juga menegaskan kembali dukungannya kepada sekretaris jenderal tersebut.
Proposal Rp325 Triliun yang Ditarik
Infantino menarik proposal senilai 20 miliar dolar AS itu pada Sabtu dini hari, setelah reaksi keras dari pejabat sepak bola di berbagai belahan dunia. FIFA menegaskan proposal FFE kini sudah tidak lagi dibahas.
Skemanya adalah menghimpun 4,2 miliar dolar AS dari investor dengan menjual sekitar 20 persen saham FFE, berdasarkan valuasi ekuitas 20 miliar dolar AS. Investor utamanya adalah Thrive Eternal, perusahaan yang didirikan Joshua Kushner. Ia merupakan saudara dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Tekanan Datang dari Segala Arah
Pertanyaan besarnya adalah apakah pertemuan di Maroko cukup meredakan tekanan. Sejauh ini, tanda-tandanya belum menggembirakan bagi Infantino.
Pada Rabu yang sama, asosiasi liga-liga sepak bola Eropa — termasuk Premier League, LaLiga, dan Serie A — menyerukan reformasi tata kelola FIFA. Mereka menyebut proposal FFE sebagai sesuatu yang berbahaya dan menandakan persoalan yang lebih dalam mengenai cara organisasi itu bekerja.
Menurut mereka, kasus ini memunculkan pertanyaan serius soal tata kelola, budaya internal, dan pengambilan keputusan di FIFA. Mereka menegaskan FIFA kini lebih membutuhkan reformasi tata kelola yang memastikan seluruh pemangku kepentingan punya peran formal dalam keputusan yang menentukan masa depan sepak bola.
Legenda Portugal dan Real Madrid, Luis Figo, secara terbuka meminta Infantino mundur. Ia menilai sang presiden telah merendahkan martabat jabatannya.
Tekanan juga datang dari ranah politik. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan kepada Infantino. Ia menyebut presiden FIFA melakukan kegagalan tata kelola yang fatal karena tidak berkonsultasi dengan penasihat senior.
“Yang jelas, saya tidak punya kepercayaan pada Tuan Infantino,” kata Carney, yang sebelumnya beberapa kali tampil bersama Infantino dalam berbagai acara Piala Dunia 2026 yang digelar bersama Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.
UEFA Sempat Ancam Boikot
Tekanan paling keras datang dari UEFA. Badan sepak bola Eropa itu sempat memutuskan memboikot Piala Dunia bila Infantino tetap melanjutkan rencana FFE.
Bahkan setelah Infantino mundur dari rencananya, UEFA menyatakan telah kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan FIFA. Sikap itu berpotensi membuka jalan bagi munculnya penantang dalam pemilihan presiden. Concacaf, badan sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, juga menyatakan kepemimpinan FIFA sudah berhenti menempatkan sepak bola sebagai prioritas utama.
Retak dari Dalam
Persoalan Infantino tidak berhenti di luar organisasi. Kepala pengembangan sepak bola global FIFA, Arsene Wenger, ikut menjaga jarak dari rencana FFE.
Penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri pekan lalu. Sementara Chief Operating Officer Kevin Lamour menyatakan para staf merasa ditipu akibat ketertutupan sang presiden.
FIFA sendiri membantah laporan media Inggris yang menyebut Infantino menawarkan hak tuan rumah final Piala Dunia 2030 kepada Maroko demi mendapatkan dukungan. Spanyol, Portugal, dan Maroko merupakan tuan rumah utama edisi 2030. Maroko berharap menggelar final di Stadion King Hassan II berkapasitas 115 ribu penonton dekat Casablanca, sementara Spanyol punya setidaknya dua kandidat, yakni markas Real Madrid dan Barcelona.
Juru bicara FIFA menyebut klaim bahwa presiden FIFA membuat janji terkait tuan rumah final Piala Dunia 2030 adalah keliru dan menyesatkan. Keputusan disebut akan diambil FIFA pada waktunya.
Sepekan penuh gejolak ini memunculkan pertanyaan besar menjelang pemilihan pada Maret mendatang. Infantino sendiri menargetkan memenangi masa jabatan keempat sekaligus terakhirnya dalam pemilihan tersebut.














