Arsitek Ekonomi China Zhu Rongji Tutup Usia, Tokoh Legendaris Pemilik ‘100 Peti Mati’ Koruptor

Arsitek Ekonomi China Zhu Rongji Tutup Usia, Tokoh Legendaris Pemilik ‘100 Peti Mati’ Koruptor

Dunia kehilangan salah satu arsitek ekonomi paling berpengaruh di kawasan Asia Pasifik. Mantan Perdana Menteri China, Zhu Rongji, meninggal dunia pada Rabu (12/8/2026) di Beijing dalam usia 97 tahun.

Zhu dikenang luas sebagai administrator ulung sekaligus reformis ekonomi paling efektif sejak berdirinya Republik Rakyat China pada 1949. Di tangannya, fondasi China sebagai kekuatan raksasa ekonomi dunia ditancapkan secara kokoh.

Mengubah China Jadi ‘Pabrik Dunia’ di Tengah Badai Geopolitik

Kiprah Zhu di panggung nasional dimulai saat ia dipanggil ke Beijing pada 1991 pascamerebaknya gejolak politik 1989 dan runtuhnya Uni Soviet. Ia menyusul jejak Presiden dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis China saat itu, Jiang Zemin.

Memegang tampuk jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Gubernur Bank Rakyat China (1993–1995), Zhu mendapat mandat mahaberat: menyelamatkan perekonomian China yang sedang bergolak. Kala itu, banyak pihak khawatir China akan kembali mengisolasi diri seperti era Mao Zedong.

Namun, Zhu mengambil langkah berani. Ia merombak total sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak efisien dan memodernisasi infrastruktur secara masif. Hasilnya spektakuler. Sebelum milenium baru berganti, Zhu membawa China menyandang julukan the world’s factory atau ‘pabrik dunia’ –sebuah status yang bertahan hingga hari ini.

‘100 Peti Mati’ dan Ketegasan Tanpa Kompromi Melawan Korupsi

Di luar urusan makroekonomi, Zhu dicintai rakyat China karena wataknya yang blak-blakan, tegas, dan benci setengah mati pada praktik korupsi. Keberaniannya teruji saat ia tak segan memecat Gubernur Provinsi Heilongjiang di tempat lantaran gagal memenuhi target pertumbuhan ekonomi.

Kekerasan sikapnya terhadap penyimpangan melahirkan salah satu kutipan paling legendaris dalam sejarah politik modern China pada 1998:

“Saya telah menyiapkan 100 peti mati di sini –99 untuk pejabat korup dan satu untuk diri saya sendiri.”

Pernyataan keras yang dikutip People’s Daily itu seketika membuatnya disegani kawan maupun lawan, hingga publik menjulukinya ‘Sang Bos’. Meski tegas, Zhu dikenal sebagai politisi langka yang enggan bersikap formalitas kaku. Ia tak ragu menyapa dan berbicara dengan masyarakat biasa sebagai seorang setara.

Menembus Benteng WTO dan Warisan Terakhir

Puncak prestasi terbesarnya terjadi saat ia menjabat Perdana Menteri China periode 1998–2003, yakni mengamankan posisi China ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Perjuangan itu tidak mudah. Dimulai sejak 1986 dari negosiasi General Agreement on Tariffs and Trade (GATT), pembahasan berjalan marathon lebih dari sedekade. Zhu memimpin negosiasi sengit dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan puluhan negara lain.

Bahkan pada 1999, kesepakatan sempat tertahan di Washington akibat masalah domestik Presiden Bill Clinton pascaskandal Monica Lewinsky. Namun lewat kegigihan diplomasi Zhu, China akhirnya resmi mengetuk pintu ekonomi global.

Meski sempat dijuluki sebagian pengamat barat sebagai ‘Gorbachev dari China’ –julukan yang sangat ia benci– Zhu tetaplah seorang kader yang setia pada Partai Komunis. Seluruh reformasinya ditujukan untuk memastikan stabilitas negara dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Usai melepaskan jabatannya, Zhu memilih menikmati masa pensiun dengan tenang dan jauh dari pusaran politik. Kemunculan terakhirnya di publik tercatat pada Kongres Partai tahun 2017, sebelum foto terakhirnya beredar saat menjalani perawatan di rumah sakit pada 2020.

Zhu Rongji berpulang dengan meninggalkan seorang istri, Lao An, serta seorang putra dan seorang putri.

Visited 1 times, 1 visit(s) today