Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Mandarin, tidak hanya membuka akses terhadap peluang global. Mempelajari bahasa baru juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan kemampuan kognitif manusia.
Hal tersebut disampaikan Stella dalam 2026 Annual Conference of Global Language Teacher Education Association (GCLTEA) & International Symposium Chinese Language Education yang membahas pembelajaran bahasa, sains kognitif, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan pada 11 Agustus 2026.
Sebagai ilmuwan kognitif, Stella mengajak mahasiswa dan pendidik melihat pembelajaran bahasa dari perspektif ilmiah. Menurutnya, kemampuan berbahasa merupakan salah satu kompetensi strategis yang manfaatnya tidak selalu langsung terlihat ketika seseorang mulai mempelajarinya.
Stella kemudian menceritakan pengalamannya saat mulai belajar bahasa Mandarin ketika menjadi mahasiswa di Harvard University pada 1999. Saat itu, ia mengaku belum mengetahui bahwa kemampuan tersebut kelak akan membantunya beraktivitas dan berkontribusi dalam berbagai forum internasional.
“Segala pengetahuan yang kita dapatkan di universitas, kita tidak tahu kapan akan berguna. Siapa yang tahu kemampuan yang kita pelajari hari ini akan menjadi sangat penting di masa depan,” ujar Stella.
“Saya mulai belajar bahasa Mandarin ketika masih di universitas, tanpa pernah membayangkan bahwa kemampuan itu akan membawa saya bekerja dan berkontribusi di tingkat global, bahkan mendampingi Presiden Republik Indonesia dalam berbagai pertemuan internasional,” lanjutnya.
Bahasa Tidak Ada yang Secara Mutlak Lebih Sulit
Stella menjelaskan, dari perspektif sains kognitif, tidak ada bahasa yang secara inheren lebih sulit untuk dipelajari dibandingkan bahasa lainnya. Otak manusia pada dasarnya memiliki kapasitas untuk mempelajari berbagai bahasa.
Tingkat kesulitan yang dirasakan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh karakteristik bahasa pertama atau bahasa ibu dengan bahasa baru yang sedang dipelajari.
Dalam konteks penutur bahasa Indonesia yang mempelajari bahasa Mandarin, salah satu tantangannya terletak pada aspek fonologi dan sistem tonal. Bahasa Mandarin menggunakan nada atau pitch untuk membedakan makna kata.
Kondisi tersebut membuat pembelajar bahasa Mandarin harus memproses makna sekaligus nada dalam waktu bersamaan. Mekanisme ini berbeda dengan bahasa Indonesia yang tidak menggunakan sistem tonal seperti bahasa Mandarin.
“Bahasa Mandarin adalah bahasa tonal. Ketika kita belajar bahasa Mandarin, kita harus mempelajari makna dan nada secara bersamaan. Ini membutuhkan proses belajar yang unik karena otak kita harus membangun cara kerja baru dalam memproses bahasa,” jelas Stella.
Belajar Bahasa Bisa Mengubah Cara Kerja Otak
Stella juga menyoroti berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa baru dapat memengaruhi struktur dan pola kerja otak, termasuk ketika seseorang mulai mempelajarinya pada usia dewasa.
Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan belajar manusia dapat terus berkembang sepanjang hayat. Proses tersebut dapat berlangsung apabila seseorang mendapatkan latihan yang konsisten serta lingkungan belajar yang mendukung.
Karena itu, pembelajaran bahasa tidak seharusnya hanya dipandang sebagai upaya menguasai kosakata atau tata bahasa. Proses tersebut juga berkaitan dengan bagaimana manusia membangun kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menggunakan informasi baru.
AI Dukung Pembelajaran, Bukan Gantikan Interaksi Manusia
Dalam konteks transformasi pendidikan di era AI, Stella menilai teknologi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satunya melalui kemampuan AI memberikan umpan balik secara cepat dan lebih personal kepada peserta didik.
Teknologi juga dapat membantu pendidik menangani kebutuhan belajar lebih banyak siswa. Dengan dukungan AI, proses pembelajaran dapat dibuat lebih adaptif sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik.
Namun, Stella mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan interaksi manusia dalam proses pendidikan.
Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan pembelajaran bahasa yang efektif tetap membutuhkan interaksi sosial yang aktif. Hubungan antara peserta didik dan pendidik tetap memiliki peran penting dalam proses belajar.
Karena itu, transformasi pendidikan tinggi di era AI perlu menempatkan teknologi sebagai alat pendukung, bukan pengganti hubungan antarmanusia.
“Teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi interaksi manusia tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan kognitif dan karakter peserta didik,” demikian inti pesan Stella dalam forum tersebut.
Bagi pendidikan tinggi, penguasaan bahasa asing dan pemanfaatan teknologi AI dengan demikian dapat berjalan beriringan. Bahasa menjadi kompetensi yang membuka akses terhadap dunia global, sementara AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat proses belajar tanpa menghilangkan peran manusia sebagai pusat pendidikan.







