Balas Gertakan Trump, Presiden Iran Akui Berada di Perang Skala Penuh

Balas Gertakan Trump, Presiden Iran Akui Berada di Perang Skala Penuh

Ikhsan Medium.jpeg

Minggu, 23 Agustus 2026 – 17:50 WIB

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Minggu (23/8/2026), menegaskan Teheran berada dalam perang skala penuh. (Foto: Anadolu Agency)

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Minggu (23/8/2026), menegaskan Teheran berada dalam perang skala penuh. (Foto: Anadolu Agency)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan menohok terkait kondisi terkini negaranya. Ia menegaskan bahwa Teheran saat ini berada dalam cengkeraman ‘perang skala penuh‘ yang mencakup sektor ekonomi, militer, hingga keamanan.

“Kita berada dalam perang ekonomi, militer, dan keamanan skala penuh,” tegas Pezeshkian dalam pidato resmi yang ditayangkan televisi nasional Iran, Minggu (23/8/2026), sebagaimana dilaporkan kantor berita IRNA.

Pezeshkian tak menampik bahwa tekanan bertubi-tubi ini berdampak langsung pada dapur masyarakat. Dengan nada lugas, ia menyampaikan keprihatinannya atas karut-marut perekonomian dalam negeri yang belum juga terurai.

Malu Rakyat Kesusahan, Sentil Gertakan Trump

Di hadapan warganya, Pezeshkian secara terbuka mengakui ketidakmaksimalan pemerintahannya dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ia menyebut jajaran pemerintah merasa ‘malu’ karena rakyat masih harus menanggung beban hidup yang berat.

Namun, ia menegaskan bahwa muara dari krisis ini tidak lepas dari tekanan asing, khususnya serangkaian sanksi sepihak dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

“(Presiden AS Donald) Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan memberlakukan sanksi yang paling menghancurkan atau paling mengerikan terhadap Iran,” sindir Pezeshkian.

Meski begitu, Pezeshkian memastikan Teheran tidak akan berlutut. Ia mematahkan klaim negara-negara Barat yang meramal Iran bakal hancur total akibat sanksi ekonomi.

“Musuh memperkirakan jika Iran jatuh, Iran akan menjadi Venezuela. Hal itu bukan hanya tidak terjadi, tetapi Iran justru menjadi kekuatan yang membuat dunia takjub melalui perlawanan, solidaritas, dan persatuannya,” katanya menegaskan.

Ia menambahkan, pemerintah terus bekerja ekstra keras demi menghindari perpecahan internal, konflik politik, maupun sikap mementingkan diri sendiri di tengah situasi kritis.

Perundingan Buntu di Selat Hormuz

Suhu panas ini merupakan buntut dari dinamika hubungan Teheran dan Washington yang tak kunjung mencair. Sebelumnya, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni lalu melalui mediasi Pakistan dan Qatar untuk mengakhiri bentrokan militer yang pecah sejak Februari.

Awalnya, kesepakatan tersebut digadang-gadang bakal membuka jalan menuju perundingan damai yang permanen. Niat baik itu mendadak menguap di tengah jalan.

Proses negosiasi kini terhenti total. Kedua negara terlibat perselisihan tajam mengenai detail implementasi poin-poin MoU, serta aturan navigasi kapal di Selat Hormuz –jalur urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia yang sangat krusial. Tanpa adanya titik temu di Selat Hormuz, bayang-bayang konflik terbuka kini kembali mengintai kawasan Timur Tengah.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 1 times, 1 visit(s) today