Sarah Nurazizah, atau akrab dipanggil Nisa, kini langkah kecilnya mulai berani berlari. Di antara rumah sederhana dan hamparan sawah yang berundak tempat ia tinggal, anak perempuan itu berkejaran bersama teman-teman seusianya.
Kakinya memang tak sesempurna anak-anak lain, tetapi bagi Mak Yati, kemampuan Nisa berjalan hingga berlari adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai.
Sejak Nisa berusia dua bulan, Mak Yati dengan telaten merawat dan mengurut kedua kakinya. Perawatan itu dilakukan bertahun-tahun hingga akhirnya Nisa mampu berjalan.
Bahkan hingga kini, ketika kakinya terasa pegal setelah berjalan, Nisa masih meminta tangan Mak Yati untuk mengurutnya.
Kini, kehidupan Mak Yati pun telah berubah. Hampir setahun terakhir ia tak lagi berjualan. Bersama suaminya, perempuan itu kini bekerja sebagai petani garap di sawah milik orang lain.
Penghasilannya tak seberapa, tetapi cukup bagi mereka untuk makan dan memenuhi kebutuhan sekolah Nisa.
Di rumah sederhana yang berdiri di tepian sawah itu, pendidikan menjadi salah satu harapan yang terus dijaga. Nisa belajar, menulis, berhitung, menggambar dan mulai mengenal bacaan Al-Qur’an.
Ketika ditanya soal sekolah, ia bahkan dengan malu-malu menunjukkan rapornya tanpa sepatah kata pun yang ia ucap kepada tim inilah.com.
Ada kemampuan yang masih harus terus dilatih, terutama membaca. Namun, bagi Mak Yati, kekurangan bukan alasan untuk menghentikan pendidikan Nisa.
Sebab sejak awal, ia ingin Nisa tumbuh seperti anak-anak lainnya: bisa belajar, bermain, dan memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Dan Nisa sudah tahu ingin menjadi apa. “Mau jadi ustazah,” kata pertama yang ia ucap ketika ditanya tentang cita-cita.
Ia ingin menjadi santri, belajar di pesantren, dan suatu hari mengajar mengaji anak-anak di kampungnya. Bagi Mak Yati, cita-cita itu bukan sesuatu yang terlalu tinggi untuk Nisa.
Keyakinan itu tumbuh dari pengalaman. Mak Yati pernah melihat seseorang dengan kondisi serupa mampu berhasil. Dari sana, ia memilih untuk percaya bahwa Nisa pun bisa memiliki masa depan yang sama baiknya.
“Makanya emak optimistis Nisa juga bisa berhasil kayak itu,” ujar Mak Yati.
Harapan Mak Yati bahkan sederhana. Ia hanya ingin diberi umur panjang agar bisa melihat sendiri Nisa menyelesaikan pendidikan dan mengenakan toga.
“Semoga umur Mak panjang, biar bisa sampai lihat Nisa wisudanya,” doanya.
Kini, perjalanan menuju mimpi itu mendapat satu langkah tambahan. Melalui program sosial 1 Miliar Kebaikan bersama bank bjb, Mak Yati diajak membuka rekening sebagai bagian dari dukungan untuk masa depan Nisa.
Dukungan tersebut diberikan bukan karena Nisa harus dikasihani. Lebih dari itu, agar ia memiliki kesempatan yang sama untuk terus belajar, tumbuh, dan mengejar cita-citanya.
Sebab keterbatasan pada kaki tak semestinya menjadi batas bagi masa depan seorang anak.
Dulu, tangan Mak Yati merawat kaki Nisa agar ia bisa berjalan. Kini, tangan yang sama ingin mengantarnya melangkah lebih jauh menuju sekolah, pesantren, hingga suatu hari nanti menjadi ustazah yang mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak di kampungnya.
Langkah Nisa mungkin belum sempurna. Namun selama ia masih bisa berjalan, mimpinya tak boleh berhenti.











