Ancaman Cuaca Ekstrem Makin Nyata, PBB Peringatkan El Nino Bertahan hingga Februari 2027

Ancaman Cuaca Ekstrem Makin Nyata, PBB Peringatkan El Nino Bertahan hingga Februari 2027

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 3 September 2026 – 22:39 WIB

Warga menggembala ternak di persawahan yang kering terdampak musim kemarau di Desa Wening Galih, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). (Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya)

Warga menggembala ternak di persawahan yang kering terdampak musim kemarau di Desa Wening Galih, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). (Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Lembaga Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan peringatan serius terkait dinamika iklim global. Badan cuaca PBB tersebut memproyeksikan adanya peluang ‘hampir 100 persen’ bahwa fenomena El Nino yang telah terbentuk sepenuhnya akan terus berlangsung hingga Februari 2027.

Kondisi ini memicu kekhawatiran global lantaran menguatnya El Nino berpotensi memperparah risiko bencana alam, mulai dari gelombang kekeringan parah, banjir bandang, hingga lonjakan suhu panas ekstrem di berbagai kawasan daratan.

Peningkatan suhu permukaan laut yang signifikan di wilayah Pasifik tropis menjadi bahan bakar utama yang membuat El Nino kali ini bergerak kian agresif. WMO memprediksi intensitasnya akan terus memuncak menjelang akhir 2026, dengan rambatan dampak iklim yang bakal terasa hingga tahun depan.

“El Nino yang luar biasa ini menuntut persiapan dan respons yang luar biasa pula,” tegas Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).

Suhu Pasifik Melonjak Tajam, Puncak Pemanasan Di depan Mata

Data pemantauan WMO mencatat, anomali suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa bagian tengah-timur –indikator utama munculnya El Nino– sudah berada jauh di atas rata-rata normal dan menunjukkan tren kenaikan saban minggunya.

Indeks Nino 3.4 mencatat rerata suhu permukaan laut berada pada angka 1,5 derajat Celsius di atas normal sepanjang periode Mei hingga Juli 2026. Angka ini bahkan menembus 2 derajat Celsius di atas rata-rata pada Juli.

Kenaikan suhu tidak berhenti di situ. Memasuki akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2026, nilai mingguan indeks tersebut melesat ke rentang 2,2 hingga 2,6 derajat Celsius di atas rata-rata. Peningkatan ini menjadi sinyal kuat bahwa dorongan energi panas dari Samudra Pasifik kian solid.

Untuk periode September hingga November 2026, WMO memproyeksikan mayoritas wilayah daratan global bakal memanas dengan suhu di atas rata-rata, diiringi pergeseran pola curah hujan yang khas akibat respons El Nino Pasifik.

Interaksi Samudra dan Kesiapsiagaan Global

Kendati El Nino berada pada level intensitas kuat, WMO menggarisbawahi bahwa tingkat keparahan dampak di tiap negara tidak bisa digeneralisasi. Efek yang dirasakan di suatu wilayah akan sangat bergantung pada posisi geografis, musim, serta interaksi dengan fenomena iklim regional lainnya.

Saat ini, fase positif Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole) diperkirakan turut terbentuk, sementara wilayah khatulistiwa Samudra Atlantik juga bertahan dalam kondisi hangat. Kombinasi faktor-faktor ini bisa memperkuat, meredam, atau bahkan mengubah karakter dampak El Nino di daerah tertentu.

Menanggapi potensi krisis iklim ini, WMO kini mempererat koordinasi dengan badan meteorologi dan hidrologi nasional di seluruh negara anggota guna memperkuat sistem peringatan dini (early warning) serta kesiapsiagaan bencana.

Sebagai informasi, El Nino dan La Nina merupakan dua fase berlawanan dari pola iklim alami El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Murni fenomena alam dan bukan disebabkan oleh perubahan iklim, El Nino selalu ditandai oleh lonjakan suhu permukaan laut Pasifik yang dampaknya sering kali mengacak-acak cuaca dunia.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 3 times, 3 visit(s) today