Bangladesh Mulai Perang Lawan Macet Kronis dengan Teknologi AI

Bangladesh Mulai Perang Lawan Macet Kronis dengan Teknologi AI

Pemerintah Bangladesh resmi meluncurkan sistem penegakan hukum lalu lintas berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di ibu kota Dhaka. Teknologi anyar ini diterapkan untuk menertibkan kesemrawutan jalan raya sekaligus menjadi senjata baru melawan kemacetan kronis yang selama ini menghantui kota terpadat tersebut.

Dhaka memang dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat kemacetan paling parah di dunia. Jalanannya dipenuhi campuran kendaraan mulai dari bus, mobil pribadi, sepeda motor, becak, hingga pejalan kaki yang berebut ruang hampir setiap saat.

Selama bertahun-tahun, sistem penegakan hukum lalu lintas di kota itu masih mengandalkan metode manual. Kondisi tersebut kerap memicu konflik antara pengendara dan aparat kepolisian di lapangan.

“Mereka yang melanggar aturan biasanya akan berbalik melawan kami. Namun sejak AI diperkenalkan, orang-orang di balik kemudi mulai mematuhi hukum dan kami terhindar dari pertengkaran sehari-hari,” ujar personel polisi lalu lintas (polantas) Dhaka, SM Nazim Uddin, seperti dikutip AFP, Senin (25/5/2026).

Dari Tali Manual ke Kamera Pintar

Sebelum AI diterapkan, polantas Dhaka bahkan masih menggunakan cara-cara konvensional untuk mengatur arus kendaraan. Mereka kerap membentangkan tali di tengah jalan guna menghentikan kendaraan sebelum lampu hijau menyala.

Transformasi digital baru dimulai pada April 2026 ketika kepolisian Dhaka resmi menghubungkan jaringan kamera lalu lintas kota dengan perangkat lunak AI pendeteksi pelanggaran otomatis.

Teknologi tersebut mampu mengidentifikasi berbagai jenis pelanggaran tanpa perlu interaksi langsung antara petugas dan pengendara.

Salah satu warga yang merasakan langsung sistem baru ini adalah Hannan Rahman Jibon (28). Ia mengaku terkejut ketika menerima pesan singkat di ponselnya yang menyatakan kendaraannya terekam melakukan pelanggaran lalu lintas.

Akibat pelanggaran itu, Jibon otomatis dikenai denda sebesar 2.000 taka atau hampir Rp300 ribu.

“Sekarang saya jauh lebih berhati-hati saat berkendara, apalagi kamera pintar ini sudah dipasang di banyak titik,” kata Jibon.

Ratusan Kendaraan Sudah Kena Tilang Digital

Meski baru berjalan beberapa pekan, sistem AI tersebut mulai menunjukkan hasil signifikan. Juru bicara Kepolisian Dhaka, N.M. Nasiruddin, mengatakan pihaknya telah memproses setidaknya 300 kendaraan yang tertangkap kamera melakukan pelanggaran lalu lintas.

Pemerintah Bangladesh pun berencana memperluas cakupan teknologi AI ke lebih banyak ruas jalan di Dhaka. Seiring pengembangan sistem, tilang manual yang selama ini mengandalkan keberadaan fisik petugas di lapangan akan dihapus secara bertahap.

Langkah ini dinilai menjadi bagian penting dalam modernisasi tata kelola transportasi perkotaan di Bangladesh.

AI Masih Hadapi Kendala Teknis

Meski mulai efektif, implementasi sistem AI di Dhaka belum sepenuhnya mulus. Polisi mengakui masih ada sejumlah kendala teknis yang menghambat akurasi pembacaan data kendaraan.

Beberapa kamera AI dilaporkan kesulitan membaca pelat nomor kendaraan yang buram, rusak, atau memiliki ukuran terlalu kecil.

“Ada beberapa kendala yang kami temukan. Misalnya, beberapa pelat nomor kendaraan dalam kondisi buram, rusak, atau ukurannya terlalu kecil sehingga sulit diidentifikasi secara akurat oleh sistem,” ujar analis data kepolisian Dhaka, Sharmin Afroze.

Pemerintah Bangladesh kini terus mengevaluasi dan menyempurnakan sistem tersebut. Targetnya, Dhaka dapat bertransformasi menjadi kota yang lebih tertib, modern, dan manusiawi di tengah tekanan urbanisasi ekstrem yang terus meningkat.

Visited 3 times, 1 visit(s) today