Biadab! Militer Zionis Siksa Aktivis Greta Thunberg: Diseret hingga Dipaksa Cium Bendera Israel

Biadab! Militer Zionis Siksa Aktivis Greta Thunberg: Diseret hingga Dipaksa Cium Bendera Israel

Ikhsan Medium.jpeg

Senin, 6 Oktober 2025 – 00:01 WIB

Aktivis Greta Thunberg bersama aktivis lain dari organisasi hak asasi manusia bertemu dengan wartawan di Catania, Italia pada 1 Juni 2025 sebelum berlayar menuju Gaza. (Foto: Associated Press/Salvatore Cavalli)

Aktivis Greta Thunberg bersama aktivis lain dari organisasi hak asasi manusia bertemu dengan wartawan di Catania, Italia pada 1 Juni 2025 sebelum berlayar menuju Gaza. (Foto: Associated Press/Salvatore Cavalli)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dunia kembali terhenyak oleh laporan mengejutkan dari para aktivis yang dideportasi Israel. Setelah kapal bantuan kemanusiaan Armada Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Jalur Gaza dibajak pasukan Zionis, muncul kesaksian dramatis mengenai perlakuan buruk terhadap para peserta, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg.

Puluhan aktivis, politisi, dan jurnalis internasional yang tergabung dalam armada GSF —yang dicegat Israel saat hampir tiba di Gaza— kini telah ditahan dan dideportasi. Namun, sejumlah saksi mata yang telah dipulangkan menuduh pasukan Israel melakukan tindakan yang sangat tidak manusiawi, bahkan diklaim melakukan penyiksaan terhadap Thunberg.

Kesaksian paling menghebohkan datang dari Ersin Celik, seorang jurnalis Turki dan peserta armada GSF. Kepada media lokal, Celik mengaku menyaksikan sendiri pasukan Israel ‘menyiksa Greta Thunberg’.

Celik menggambarkan detail perlakuan brutal tersebut, yakni bagaimana Thunberg ‘diseret di tanah’ dan ‘dipaksa mencium bendera Israel’ oleh tentara Zionis.

Kesaksian serupa diperkuat oleh aktivis Malaysia Hazwani Helmi dan peserta armada GSF asal Amerika Serikat (AS), Windfield Beaver, setibanya mereka di Bandara Istanbul. Keduanya menuturkan bahwa Thunberg didorong dengan kasar, dan yang lebih parah, ia dipamerkan sambil diselimuti bendera Israel, menjadikannya sebagai alat propaganda oleh pasukan keamanan Israel.

“Itu bencana. Mereka memperlakukan kami seperti binatang,” ungkap Helmi dengan nada getir. Ia menambahkan bahwa para tahanan sama sekali tidak diberi makanan, air bersih, maupun obat-obatan esensial.

post-cover

Beaver juga menceritakan bagaimana Thunberg ‘diperlakukan sangat buruk’ dan bagaimana dia buru-buru didorong masuk ke sebuah ruangan saat Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, masuk.

Seorang jurnalis Italia, Lorenzo Agostino, yang turut berada di armada kapal tersebut, turut menegaskan perlakuan buruk yang dialami aktivis muda itu. “Greta Thunberg, seorang perempuan pemberani, baru berusia 22 tahun. Ia dihina, dililit dengan bendera Israel, dan dipertontonkan layaknya sebuah trofi,” ujar Agostino kepada Anadolu Agency.

Pengalaman Mengerikan Mirip Kondisi Gaza

Pernyataan lainnya menggambarkan perlakuan yang jauh lebih parah dialami seluruh rombongan armada GSF. Presenter televisi Turki, Ikbal Gurpinar, menuturkan bahwa para pasukan Israel “memperlakukan kami seperti anjing.”

“Mereka membiarkan kami kelaparan selama tiga hari. Mereka tidak memberi kami air; kami terpaksa minum dari toilet… Hari itu sangat panas, dan kami semua hampir terbakar,” ucap Gurpinar, seperti dikutip Al Jazeera.

Gurpinar menyimpulkan bahwa pengalaman buruk itu justru memberinya ‘pemahaman lebih baik tentang kondisi Gaza’.

post-cover

Kesaksian mengharukan juga datang dari aktivis Turki Aycin Kantoglu, yang menceritakan tentang tembok penjara yang berlumuran darah serta coretan pesan yang ditinggalkan oleh para tahanan Palestina sebelumnya. “Kami melihat para ibu menuliskan nama anak-anak mereka di dinding. Kami benar-benar merasakan sedikit dari apa yang dialami warga Palestina,” katanya.

Total 137 orang penumpang puluhan armada kapal GSF yang dideportasi telah mendarat dengan selamat di Istanbul pada Sabtu (4/10/2025), termasuk 36 warga negara Turki, bersama aktivis dari AS, Italia, Malaysia, dan negara-negara lain. Anggota parlemen Italia, Arturo Scotto, merupakan salah satu politikus asing yang turut serta dalam armada tersebut.

Kementerian Luar Negeri Italia mengonfirmasi bahwa 26 warganya telah dideportasi, sementara 15 lainnya masih dalam penahanan di Israel menunggu proses pemulangan.

Pencegatan dan penahanan sekitar 450 orang di 40 kapal GSF ini makin memperkuat kecaman internasional terhadap Israel. Para kritikus menilai serangan militer ini sekali lagi menegaskan ilegalitas blokade Israel yang telah memutus akses 2,3 juta penduduk Gaza di tengah perang yang masih berkecamuk.

Armada GSF sendiri merupakan upaya terbaru untuk menembus pengepungan dan menyalurkan bantuan bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menderita.
 

Topik
Komentar

Visited 4 times, 1 visit(s) today