Ilustrasi bertemu saudara yang hobi pamer saat kumpul libur lebaran. (Foto: Generator AI).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Masuk hari kedua Lebaran, acara keliling ke rumah saudara biasanya masih padat, dan b iasanya momen kumpul keluarga saat lebaran sering kali berubah jadi ajang presentasi pencapaian.
Di antara ketupat dan opor, selalu ada saudara yang hobi flexing alias pamer, entah soal jabatan, kendaraan, hingga barang branded yang melekat di badan. Jika tak siap mental, obrolan ini bisa bikin telinga panas dan hati dongkol.
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam permainan adu nasib tersebut. Menjaga respons tetap sehat secara psikologis jauh lebih penting daripada harus memaksakan diri untuk mengimbangi apa yang mereka tampilkan.
“Respon yang netral dan tidak memperpanjang diskusi ke arah kompetisi sudah cukup, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” kata Phoebe kepada wartawan, baru-baru ini.
Menurutnya, dinamika membanding-bandingkan ini memang menguat saat keluarga besar berkumpul. Mereka yang hobi pamer biasanya sedang mencari validasi bahwa mereka telah sukses atau setidaknya tidak tertinggal. Perilaku ini sering kali menjadi bentuk kompensasi dari rasa tidak aman atau ketakutan dianggap gagal oleh lingkungan sosial.
Saking tingginya tekanan sosial untuk terlihat sukses, sebagian orang bahkan rela menempuh jalan pintas dengan menyewa barang mewah. Fenomena ini nyata adanya. Platform sewa tas seperti Lavergne.id kebanjiran order tas Chanel dan Dior saat libur lebaran.
“Merek yang biasanya disewakan adalah Chanel dan Dior karena keduanya memiliki tipe tas klasik dan banyak peminatnya,” ujar Edha Clarissa dari tim Sales dan Marketing Lavergne.id.
Dengan tarif sewa antara Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta, para profesional usia 30-an rela membayar demi menjinjing tas desainer. Omzet penyewaan ini bahkan bisa menembus Rp150 juta di musim mudik. Phoebe melihat ini sebagai dorongan psikologis yang dalam untuk mendapat penilaian positif dari orang lain, meski tak sesuai kondisi sebenarnya.
“Di era yang sangat menekankan pencitraan, penampilan eksternal sering kali dianggap lebih penting daripada keaslian, sehingga individu rela melakukan berbagai cara untuk memenuhi ekspektasi sosial tersebut,” ujar Phoebe menyikapi fenomena ini.
Phoebe menyarankan untuk tetap berakar pada nilai diri sendiri dan menjaga jarak emosional jika interaksi mulai terasa melelahkan. Mengembangkan empati juga membantu, karena sadarilah bahwa pamer adalah cara mereka mencari rasa dihargai.
Agar Lebaran lebih bermakna, ia juga mendorong agar obrolan keluarga selalu diarahkan ke hal-hal yang memperkuat koneksi, bukan sekadar pamer barang sewaan atau jabatan.
“Misalnya dengan berbagi pengalaman hidup, termasuk tantangan dan pelajaran yang didapat, mengingat kembali kenangan keluarga, atau saling memberikan apresiasi secara tulus,” sarannya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














