Cak Imin Tegaskan Program MBG Harus Sukses, Tameng dari Gizi Buruk dan Racun MSG

Cak Imin Tegaskan Program MBG Harus Sukses, Tameng dari Gizi Buruk dan Racun MSG

Vonita Medium.jpeg

Senin, 29 September 2025 – 03:00 WIB

Menteri Koordinator bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, pada Minggu (28/9/2025) malam. (Foto: Inilah.com/Vonita).

Menteri Koordinator bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, pada Minggu (28/9/2025) malam. (Foto: Inilah.com/Vonita).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Koordinator bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu upaya penangkal racun bagi anak sekolah. Pasalnya, tidak sedikit dari mereka yang mengonsumsi makanan dengan kandungan berbahaya dalam Monosodium Glutamat (MSG)  

“Ya, MBG ini program yang amat-sangat strategis mengatasi kekurangan gizi,” kata Cak Imin kepada wartawan di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, pada Minggu (28/9/2025) malam.

“Jujur saja ya misalnya adik-adik kita yang masih di bawah kelas 2 SD mayoritas konsumsi sehari-hari adalah yang berbau vetsin MSG. Itu jujur, MSG vetsin telah meracuni,” ucapnya menambahkan.

Cak Imin menyebut program MBG menjadi langkah pemerintah untuk mencegah pemaparan zat tersebut terjadi. Sebab, tidak sedikit siswa-siswi justru menderita kekurangan gizi akibat konsumsi MSG.

“Nah MBG ini solusi, solusi jutaan anak-anak Indonesia untuk pagi dan siangnya tidak lagi kejeprak soal gizi buruk melalui racun MSG. Ini yang paling sederhana. Di sisi yang lain kita juga kekurangan protein untuk anak-anak kita sehingga MBG ini makan gizi gratis ini harus sukses,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyesalkan masih adanya kasus keracunan menu MBG. Ia menegaskan, target utama pemerintah adalah memberikan pelayanan terbaik dan intervensi gizi maksimal bagi anak-anak penerima manfaat.

“Kami sih masih sangat menyesalkan itu terjadi karena sebetulnya target kami itu memberikan pelayanan sebaik mungkin, memberikan intervensi gizi semaksimal mungkin, dan semaksimal mungkin makanan itu dikonsumsi dan bisa memberikan efek yang baik terhadap pertumbuhan anak,” kata Dadan dalam podcast bersama Inilahcom belum lama ini.

“Tetapi memang ada beberapa hal yang masih terjadi karena mungkin alasan teknis, apakah pemilihan bahan baku, kadang-kadang delaying pada saat masak, dan diterima dan sebagainya,” sambungnya.

Dadan membantah soal tudingan kasus keracunan yang dianggap berulang. Menurutnya, kejadian hanya berlangsung sekali di setiap Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG).

“Bukan berulang, tidak pernah berulang. Karena satu SPPG yang sudah mengalami itu tidak pernah, sampai sekarang tidak pernah kejadian lagi,” tegasnya.

BGN telah menjatuhkan sanksi terhadap 79 dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai bermasalah menyusul rentetan kasus keracunan makanan. Dari total 9.406 SPPG yang beroperasi, puluhan unit dikenai sanksi berupa teguran hingga penutupan sementara tanpa batas waktu.

“BGN juga telah membentuk tim investigasi sebagai langkah evaluasi untuk pelaksanaan program ke depan,” ujar Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, dalam keterangannya dikutip dari akun instagram BGN, Minggu (28/9/2025).

Sebagai bagian dari langkah perbaikan, BGN mewajibkan seluruh SPPG untuk memenuhi sertifikasi laik higiene sanitasi, sertifikasi halal, dan penggunaan air layak pakai dalam waktu satu bulan.

“Tim investigasi dibentuk untuk memastikan evaluasi berjalan menyeluruh, sehingga program MBG ke depan dapat terlaksana dengan lebih aman, bermutu, dan terpercaya bagi anak-anak Indonesia,” ujar Nanik.

Pada periode 6 Januari–31 Juli 2025, tercatat 24 kasus kejadian luar biasa (KLB) dari 2.391 SPPG yang beroperasi. Jumlah tersebut meningkat pada periode 1 Agustus–27 September 2025, dengan 47 kasus dari 7.244 SPPG tambahan.

Dari 70an kasus itu, sembilan kasus dengan 1.307 korban ditemukan di wilayah I Sumatera, termasuk di Kabupaten Lebong, Bengkulu dan Kota Bandar Lampung, Lampung.

Kemudian, di wilayah II Pulau Jawa, ada 41 kasus dengan 3.610 penerima MBG yang terdampak dan di wilayah III di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali dan Nusa Tenggara ada 20 kasus dengan 997 penerima MBG yang terdampak.

Dari 70 kasus keracunan itu, penyebab utamanya ada kandungan beberapa jenis bakteri yang ditemukan, yaitu e.coli pada air, nasi, tahu, dan ayam. Kemudian, staphylococcus aureus pada tempe dan bakso, salmonella pada ayam, telur, dan sayur, bacillus cereus pada menu mie dan coliform, PB, klebsiella, proteus dari air yang terkontaminasi.

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today