Dua perempuan dilaporkan tewas dalam ledakan di pusat perbelanjaan Aeon, Prefektur Kumamoto, Jepang, yang ternyata kembali masuk ke gedung atas instruksi perusahaan tempat mereka bekerja. Keduanya diminta menyimpan uang hasil penjualan ke dalam brankas, tak lama setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah itu pada 28 Juli 2026.
Pengakuan itu datang dari Habita Inc, operator toko serba ada di dalam mal tersebut. Dua eksekutif perusahaan menyatakan telah meminta maaf kepada keluarga salah satu korban, Kurumi Otake (22), saat menghadiri malam pelayatan. Mereka juga menyerahkan kronologi tertulis mengenai peristiwa itu kepada pihak keluarga.
Otake sebenarnya sudah keluar dari gedung setelah gempa terjadi. Namun ia kemudian terlihat masuk kembali ke dalam mal di kawasan Kashima itu. Ledakan terjadi sekitar pukul 17.50 waktu setempat dan menewaskan tujuh orang.
“Tidak Sebanding dengan Sebuah Nyawa”
Ibu Otake tidak kuasa menahan tangis saat berbicara kepada wartawan. Ia mengatakan putrinya tidak akan kembali lagi.
Seorang kerabat laki-laki menggambarkan Otake sebagai sosok dengan rasa tanggung jawab yang besar. Ia mengenang pertemuan keluarga sekitar tiga bulan sebelumnya, ketika mereka masih bercanda dan tertawa bersama. Banyak teman almarhumah hadir dalam prosesi pelayatan.
Manajer penjualan Habita mengakui keputusan itu keliru. Menurut dia, jika ditinjau kembali, hal tersebut tidak sebanding dengan sebuah nyawa.
Habita berdiri sejak 1976 dan mengoperasikan lebih dari 10 gerai di Pulau Kyushu. Sehari setelah ledakan, manajemen Aeon Co menggelar konferensi pers dan menyatakan belum mengetahui alasan para korban berada di dalam gedung.
36 Orang Tewas, 8.000 Warga Mengungsi
Pemerintah Prefektur Kumamoto mencatat 36 orang meninggal sebagai dampak langsung gempa hingga Senin (3/8/2026). Dua kematian lain masih dalam penyelidikan.
Kerusakan bangunan mencapai lebih dari 4.600 unit. Sementara itu, lebih dari 8.000 warga masih bertahan di 206 lokasi pengungsian.
Perdana Menteri Sanae Takaichi tiba di wilayah Jepang barat daya itu pada Senin untuk meninjau langsung kondisi lapangan. Agendanya mencakup perbaikan kondisi hidup pengungsi dan percepatan pemulihan infrastruktur. Pemerintah juga mendorong evakuasi tahap kedua ke fasilitas penginapan, seiring kekhawatiran atas serangan panas dan kematian susulan akibat bencana di tengah cuaca ekstrem.
Kunjungan sehari itu justru menuai kritik di media sosial. Sebagian warganet menilai lawatan tersebut tidak perlu dan hanya menambah beban biaya pengamanan di tengah situasi yang belum pulih. Kritik muncul bersamaan dengan tren penurunan tingkat dukungan terhadap kabinet Takaichi dalam sejumlah jajak pendapat terbaru.












