Pelatih Kepala Tim Nasional Prancis, Didier Deschamps, secara jantan mengakui bahwa skuad asuhannya tampil di bawah standar saat ditekuk Spanyol 0-2 pada laga semifinal Piala Dunia 2026 di AT&T Stadium, Arlington, Texas, Rabu (15/7) dini hari WIB. Selain menyoroti buruknya level teknis Les Bleus, Deschamps juga tak bisa menutupi kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit.
“Untuk memiliki harapan, kami harus berada dalam performa terbaik kami,” aku Deschamps usai pertandingan. “Sayangnya, kami tidak berada di level tersebut.”
Spanyol sukses menyegel kemenangan lewat penalti cepat Mikel Oyarzabal pada menit ke-22 dan gol tambahan dari Pedro Porro pada menit ke-58.
Tumpulnya Trisula Maut dan Rapatnya Pertahanan Spanyol
Kelemahan teknis Prancis terlihat jelas dari statistik di atas lapangan. Saat Spanyol mencetak gol kedua, La Furia Roja sudah melepaskan delapan tembakan berbanding dua milik Prancis, serta memenangkan 60% duel perebutan bola. Prancis memang mengakhiri laga dengan total 10 tembakan, namun hanya tiga yang berstatus on target, dan hanya satu yang dilepaskan dari jarak berbahaya (di bawah 13 meter).
Lebih memprihatinkan lagi, trisula maut Prancis—Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise—yang di enam laga sebelumnya sukses membukukan 13 gol dan 10 assist, dibuat tak berkutik. Ketiganya hanya mampu menghasilkan kombinasi lima tembakan dengan angka harapan gol (xG) yang sangat rendah, yakni 0,15.
“Hari ini Spanyol bertahan dengan sangat baik. Mereka menyisakan ruang yang sangat sempit untuk kami,” keluh Deschamps.
“Ditambah lagi, karena kami membuat banyak kesalahan teknis, menjadi sulit untuk menciptakan masalah bagi mereka. Level teknis kami berada jauh di bawah apa yang telah kami tunjukkan di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Saya tidak ingin mengatakan bahwa kekuatan serangan kami hilang begitu saja, karena ada banyak pujian yang layak diberikan kepada lawan yang sangat ahli dalam membaca permainan,” tambahnya.
Sindiran Keras untuk Kualitas Wasit Semifinal
Selain membedah kelemahan timnya, Deschamps secara spesifik mempertanyakan kualitas wasit Ivan Arcides Barton Cisnero. Momen krusial terjadi pada proses penalti Spanyol. Sebelum bek Prancis Lucas Digne menendang kaki Lamine Yamal di kotak penalti, bola diduga kuat sempat mengenai siku Yamal yang melompat usai sapuan sundulan Digne yang tidak sempurna.
“Jika saya berbicara apa pun, saya akan terlihat seperti pecundang yang tidak terima karena kami kalah,” sindir Deschamps.
“Tetapi saya bertanya kepada Anda: apakah wasit tersebut sepadan dengan tugas memimpin laga sekelas semifinal? Ada masalah penalti, tapi bukan hanya itu; hal itu menambah daftar panjang keputusan lainnya. Saya tidak punya sentimen pribadi terhadap wasit malam ini, tetapi tanyakan saja pertanyaan itu pada diri Anda sendiri,” sambungnya.
Akhir Era Deschamps dan Transisi Menuju Zidane
Kekalahan ini memupus ambisi Prancis untuk mencapai final Piala Dunia dalam tiga edisi beruntun—sebuah rekor yang hanya dimiliki Jerman Barat (1982-1990) dan Brasil (1994-2002). Meski begitu, Deschamps menolak untuk menghapus pencapaian timnya yang sukses menembus semifinal tiga kali berturut-turut.
“Lawan memaksa kami melakukan kesalahan. Namun ini adalah semifinal Piala Dunia. Bagi dua pemain kami, ini adalah pengalaman pertama mereka. Hal itu tidak menghilangkan semua hal baik yang telah kami lakukan sebelum ini,” tegas pelatih berusia 57 tahun tersebut.
Laga perebutan tempat ketiga pada hari Sabtu mendatang—melawan tim yang kalah antara Inggris dan Argentina—akan menjadi panggung perpisahan bagi Deschamps. Pengabdian 14 tahun sang pelatih bersama Les Bleus dipastikan berakhir pekan ini, dengan Zinedine Zidane dilaporkan telah sepakat untuk menjadi suksesornya.












