Rivalitas dua tunggal putri papan atas dunia, An Se-young dan Akane Yamaguchi, kembali tersaji pada final BWF World Tour Super 1000 Indonesia Open 2026 setelah keduanya memastikan tiket partai puncak di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu.
Final tersebut menjadi panggung lain dari persaingan panjang An dan Akane yang dalam beberapa musim terakhir kerap menghadirkan duel berintensitas tinggi.
Akane lebih dulu memastikan tempat di final setelah mengalahkan wakil Korea Selatan Sim Yu-jin dua gim langsung 21-14, 21-7. Kemenangan tersebut sekaligus menggagalkan peluang Korea Selatan menciptakan final sesama wakil mereka di sektor tunggal putri.
Pada laga tersebut, Akane tampil sangat solid sejak gim pertama. Pebulu tangkis Jepang tersebut mampu mengendalikan tempo reli, memaksa Sim banyak bergerak, dan tidak memberi banyak ruang bagi lawannya untuk mengembangkan permainan.
Dominasi Akane makin terlihat pada gim kedua. Sim yang berupaya keluar dari tekanan justru semakin kesulitan menghadapi variasi pukulan dan kecepatan Akane dalam mengubah arah serangan. Akane pun menutup pertandingan dengan margin yang telak untuk kembali menjejak final turnamen level Super 1000 tersebut.
Comeback Luar Biasa An Se-young
Sementara itu, An harus melalui jalan yang jauh lebih dramatis untuk mengamankan tiket final. Tunggal putri nomor satu dunia asal Korea Selatan itu menang atas rival lainnya Chen Yu Fei dari China melalui pertandingan tiga gim 21-17, 19-21, 23-21.
Duel An melawan Chen berlangsung ketat sejak awal. An membuka pertandingan dengan permainan solid dan mampu merebut gim pertama. Ia bahkan sempat berada dalam posisi nyaman pada gim kedua setelah unggul 11-4 dan kemudian 16-11.
Namun, Chen menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu pemain paling berpengalaman di sektor tunggal putri. Juara Indonesia Open 2023 dan 2024 itu bangkit, mengejar ketertinggalan, lalu membalikkan tekanan untuk merebut gim kedua 21-19.
Momentum sempat berpindah ke tangan Chen pada gim penentuan. Ia unggul 11-6 saat interval dan semakin menjauh hingga 17-7. Dalam situasi itu, An berada di ambang kekalahan.
Namun, juara bertahan Indonesia Open tersebut tidak menyerah. An perlahan mengikis jarak, memaksa Chen bermain di bawah tekanan, dan menyelamatkan sejumlah match point sebelum akhirnya berbalik menang 23-21.
Kemenangan itu kembali memperlihatkan salah satu kekuatan terbesar An, yakni ketenangan dalam situasi paling sulit. Saat lawan sudah berada sangat dekat dengan kemenangan, An justru mampu memperpanjang reli, memaksa kesalahan lawan, dan mengambil alih kendali pada fase akhir pertandingan.
Rivalitas Panjang
Final melawan Akane akan menjadi pertemuan ke-34 antara keduanya sepanjang karier. Dari 33 pertemuan sebelumnya, An masih unggul dengan 18 kemenangan, sedangkan Akane mengantongi 15 kemenangan.
Pertemuan terakhir mereka terjadi pada final Singapore Open 2026 pekan lalu. Saat itu, An keluar sebagai juara setelah mengalahkan Akane dalam laga tiga gim 21-11, 17-21, 21-19.
Khusus di Indonesia Open, keduanya juga pernah bertemu pada edisi 2025. Pada semifinal tahun lalu, An mengalahkan Akane dua gim langsung 21-18, 21-17 sebelum melanjutkan langkahnya hingga menjadi juara setelah menundukkan wakil China Wang Zhi Yi 13-21, 21-19, 21-15 di final.
Final kali ini juga mempertemukan dua pemain yang sudah pernah merasakan gelar Indonesia Open. Akane menjadi juara pada edisi 2019 setelah mengalahkan PV Sindhu dari India dengan skor 21-15, 21-16 pada final di Istora.
Sementara itu, An sudah dua kali menjuarai Indonesia Open. Selain pada edisi 2025, ia lebih dulu menjadi kampiun pada 2021 ketika turnamen digelar di Bali setelah mengalahkan Ratchanok Intanon dari Thailand 21-17, 22-20.
Dengan catatan tersebut, final Indonesia Open 2026 menjadi ujian lanjutan dalam rivalitas dua pemain dengan karakter berbeda. An datang dengan status unggulan utama dan konsistensi luar biasa, sementara Akane membawa pengalaman, kecepatan, dan kemampuan bertahan yang selalu membuatnya berbahaya di laga besar.
Bagi An, final ini menjadi kesempatan untuk mempertahankan gelar sekaligus mempertegas dominasinya atas sektor tunggal putri dunia. Adapun bagi Akane, laga puncak di Istora menjadi peluang untuk membalas kekalahan dari An dalam beberapa pertemuan terakhir dan kembali mengangkat trofi Super 1000.
Pertarungan An dan Akane di final juga menjanjikan duel taktik yang menarik. An dikenal dengan pertahanan rapat, penempatan bola yang matang, serta kemampuan mengubah tekanan menjadi peluang. Sementara Akane memiliki kecepatan kaki, variasi pukulan, dan daya juang yang membuat reli panjang kerap berjalan melelahkan bagi lawan.
Dengan sejarah panjang dan kualitas kedua pemain, final tunggal putri Indonesia Open 2026 berpotensi kembali menjadi salah satu sajian utama di Istora.
Paceklik Tuan Rumah
Sementara itu bagi tuan rumah, final tunggal putri Indonesia Open 2026 kembali menjadi panggung yang harus disaksikan dari luar lapangan. Indonesia harus kembali menjadi penonton di kandang sendiri.
Paceklik gelar di sektor tunggal putri pun berlanjut. Indonesia belum pernah lagi menempatkan wakilnya sebagai juara sejak edisi 2001, saat Ellen Angelina menjadi yang terbaik. Kala itu, Ellen mengalahkan wakil China Wang Chen dengan skor 7-5, 7-3, 5-7, 7-4.
Catatan itu terasa makin panjang karena sudah lebih dari dua dekade Indonesia tidak lagi memiliki juara tunggal putri di turnamen kandang sendiri. Padahal, Indonesia Open pernah menjadi panggung besar bagi tunggal putri Merah Putih.
Secara keseluruhan, tunggal putri Indonesia memang tidak terlalu sering meraih podium juara di Indonesia Open. Tercatat hanya 11 gelar yang pernah diraih melalui Verawaty Fadjrin pada 1982, Ivana Lie pada 1983, Susy Susanti pada 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997, Mia Audina pada 1998, Lidya Djaelawijaya pada 1999, serta Ellen Angelina pada 2001.
Nama-nama itu menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya pernah memiliki kekuatan besar di sektor tunggal putri. Susy Susanti bahkan menjadi sosok paling dominan dengan enam gelar Indonesia Open. Namun setelah era itu berakhir, sektor tunggal putri Indonesia seperti kesulitan menemukan penerus yang benar-benar mampu menjaga tradisi juara di level tertinggi.
Pada edisi kali ini, asa tuan rumah sempat terbuka lewat Putri Kusuma Wardani. Putri menjadi satu-satunya wakil Indonesia di sektor tunggal putri dan mampu menembus perempat final.
Namun, langkah Putri akhirnya terhenti di tangan Chen Yu Fei. Wakil China itu menang dua gim langsung 21-13, 22-20. Putri sempat memberi perlawanan lebih ketat pada gim kedua, tetapi belum cukup untuk memaksa pertandingan berlanjut ke gim penentuan.
Kekalahan Putri membuat tunggal putri Indonesia kembali harus menunda harapan. Bukan hanya untuk meraih gelar, tetapi bahkan untuk sekadar menempatkan wakil di semifinal dan final turnamen.
Situasi ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak kecil. Di tengah persaingan tunggal putri dunia yang makin ketat, Indonesia masih harus mengejar banyak hal. Para pemain elite seperti An Se-young, Akane Yamaguchi, Chen Yu Fei, hingga Wang Zhi Yi sudah berada pada level permainan yang sangat stabil. Mereka tidak hanya kuat secara teknik, tetapi juga matang dalam membaca pertandingan dan tenang pada poin-poin penting.
Putri, dan tunggal putri Indonesia secara umum, tentu masih memiliki ruang untuk berkembang. Namun, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar satu pemain yang sesekali mampu membuat kejutan. Untuk kembali bersaing di papan atas, sektor ini membutuhkan kesinambungan, kedalaman skuad, dan konsistensi hasil dari satu turnamen ke turnamen berikutnya.
Final antara An Se-young dan Akane Yamaguchi pun tidak hanya menjadi kelanjutan rivalitas dua pemain besar dunia. Bagi Indonesia, laga itu juga menjadi pengingat bahwa sektor tunggal putri pernah punya sejarah panjang di turnamen ini, tetapi sejarah tersebut masih menunggu untuk dilanjutkan kembali.










