Francesco Pio Esposito dari FC Internazionale Milano merayakan gol pertama timnya bersama Pelatih Kepala, Cristian Chivu, selama pertandingan Serie A antara FC Internazionale dan US Lecce di Stadion Giuseppe Meazza pada 14 Januari 2026 di Milan, Italia. (Foto: Marco Luzzani/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Inter Milan resmi mengunci status sebagai Juara Paruh Musim (Campioni d’Inverno) Serie A 2025/26. Kemenangan tipis 1-0 atas Lecce di Giuseppe Meazza, Rabu (14/1) malam waktu setempat, memastikan Nerazzurri kokoh di puncak klasemen paruh musim, unggul enam poin dari pesaing terdekat, Napoli.
Namun, pelatih Inter, Cristian Chivu, menolak untuk merayakan status simbolis tersebut. Bagi mantan bek legendaris Rumania itu, memimpin klasemen di bulan Januari tidak ada artinya jika mereka tidak mengangkat Scudetto di akhir musim.
Chivu: Mei adalah Kunci
Inter mendapat keuntungan besar setelah Napoli ditahan imbang 0-0 oleh Parma pada laga sebelumnya. Kemenangan atas Lecce membuat Inter nyaman di puncak. Meski demikian, Chivu tetap membumi.
“Saya pernah memenangkan gelar semu ‘Juara Musim Dingin’ ini sebelumnya dalam karier saya, tapi itu tidak berarti apa-apa. Yang terpenting adalah berada di sana (puncak) pada bulan Mei,” tegas Chivu kepada DAZN Italia.
“Artinya adalah kami kompetitif, tetapi seperti yang saya katakan tempo hari, ini akan menjadi pertempuran sampai akhir untuk setiap poinnya,” tambahnya.
Pahlawan dari Bangku Cadangan: Francesco Pio Esposito
Laga melawan Lecce tidak berjalan mudah. Inter sempat frustrasi membongkar pertahanan lawan, bahkan drama VAR sempat membatalkan penalti bagi tuan rumah.
Kebuntuan baru pecah pada menit ke-78. Pemain pengganti, Francesco Pio Esposito, muncul sebagai pahlawan. Striker muda itu berada di posisi yang tepat untuk menyambar bola rebound hasil tepisan kiper Wladimiro Falcone atas tembakan Lautaro Martinez.
Momen emosional terjadi saat Chivu berlari dari pinggir lapangan untuk memeluk sang pencetak gol. Keduanya memiliki hubungan batin yang kuat sejak di akademi.
“Saya ingat anak kecil berusia tujuh tahun ini, kami praktis tumbuh bersama,” ujar Chivu terharu.
“Saya mengenalnya luar dalam, keluarganya, ambisinya, kerja kerasnya dari akademi muda. Dia adalah kapten saya di skuad Inter Primavera dan saya bahagia untuknya, sama seperti saya bahagia untuk seluruh tim, karena ini adalah pertandingan yang sangat rumit.”
Keputusan Kontroversial “Hari Libur”
Kemenangan ini juga membenarkan keputusan berani Chivu yang sempat dipertanyakan media Italia. Sang pelatih memberikan skuadnya libur satu hari jelang laga ini, meski jadwal sangat padat pasca-laga kontra Napoli hari Minggu lalu.
“Mungkin sepak bola Italia tidak terbiasa dengan cara saya melakukan beberapa hal… tapi semua itu tidak menarik bagi saya. Yang menarik bagi saya adalah lima bulan ke depan musim ini,” bela Chivu.
“Saya memercayai para pemain ini, tidak ada yang menjamin bahwa Anda menang dengan training retreat (pemusatan latihan tertutup). Mengingat semua retreat yang saya jalani sebagai pemain, saya seharusnya memenangkan setiap turnamen. Saya percaya pada kedewasaan pemain saya.”
Dengan kemenangan ini, Inter menutup paruh pertama musim dengan manis, sembari menunggu hasil AC Milan yang akan bertandang ke markas Como besok malam.














