Situasi lalu lintas di Jalan Gatot Subroto dan Gerbang Tol Semanggi yang mengarah ke timur pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa, Kamis (19/2/2026). (Foto: Antara/Ilham Kausar).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kemacetan masih membayangi sejumlah ruas jalan di Jakarta, termasuk saat akhir pekan ketika mobilitas warga tetap tinggi. Di tengah kondisi tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta menyatakan lalu lintas Ibu Kota masih dalam kategori terkendali berdasarkan indikator teknis.
Pantauan di lapangan menunjukkan kepadatan terjadi di sejumlah titik. Di Jalan Tendean, arus lalu lintas dari arah Blok A menuju Rasuna Said tampak padat merayap sejak sore hari. Kendaraan bergerak perlahan dengan antrean panjang, terutama di sekitar persimpangan.
Kondisi serupa terlihat di Jalan Kramat Raya arah Matraman. Volume kendaraan yang tinggi membuat arus lalu lintas tersendat, bahkan sesekali nyaris tidak bergerak. Sementara itu, arus dari arah sebaliknya juga dipadati kendaraan, menyebabkan perlambatan di kedua sisi jalan.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaludin menyebutkan, secara umum kondisi lalu lintas masih terkendali jika dilihat dari indikator kecepatan rata-rata pada ruas jalan utama.
Pada 2025, kecepatan tempuh rata-rata di 25 ruas jalan dengan sistem ganjil-genap tercatat 27,47 km/jam dan meningkat menjadi 29,58 km/jam pada periode Januari hingga Mei 2026.
“Hal ini mengindikasikan volume lalu lintas masih stabil dan terkendali pada segmentasi 25 ruas jalan dengan sistem ganjil-genap,” kata Budi kepada inilah.com.
Meski demikian, Dishub mengakui masih terdapat sejumlah koridor dengan tingkat kepadatan tinggi. Sedikitnya 50 ruas jalan masuk kategori heavy traffic, termasuk koridor Pintu Besar Selatan – Fatmawati, Ahmad Yani – D.I. Panjaitan, hingga TB Simatupang dan Kalimalang.
Menurut Budi, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi lalu lintas adalah pekerjaan konstruksi. Pada 2025, okupansi proyek mencapai 283,817 kilometer ruas jalan dan berkurang menjadi 269,425 kilometer pada 2026.
“Penurunan okupansi pekerjaan konstruksi sejalan dengan peningkatan kecepatan tempuh rata-rata,” ujarnya.
Di sisi lain, pertumbuhan kendaraan pribadi masih menjadi tantangan. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kepemilikan kendaraan meningkat sekitar 2,48 persen per tahun, sementara kendaraan listrik melonjak hingga 106,09 persen per tahun.
Kondisi ini turut mendorong peningkatan penggunaan kendaraan pribadi yang berdampak pada kepadatan lalu lintas. Sementara itu, kontribusi transportasi publik terhadap pengurangan kemacetan dinilai belum signifikan, dengan mode share angkutan umum baru naik tipis dari 23,32 persen pada 2024 menjadi 23,62 persen pada 2025.
Situasi ini menunjukkan bahwa meski indikator teknis mencatat perbaikan, kemacetan masih menjadi persoalan yang nyata dirasakan masyarakat di lapangan, termasuk pada akhir pekan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














