Bel pulang sekolah tidak selalu berarti pekerjaan guru selesai.
Bagi murid, bunyi itu menandai berakhirnya pelajaran. Guru justru memasuki pekerjaan berikutnya. Mereka meninggalkan kelas, membuka laptop, memeriksa tugas, memasukkan nilai, menjawab pesan orang tua, dan menyiapkan pelajaran untuk esok pagi.
Di ruang guru, tumpukan pekerjaan sudah menunggu. Rapat segera dimulai. Beberapa aplikasi meminta pembaruan data. Di tengah semua itu, seorang guru mungkin masih memikirkan murid yang sejak pagi terlihat murung, tetapi belum sempat diajak bicara.
Sekolah akhirnya ikut pulang bersama guru. Catatan tentang murid muncul kembali di meja makan. Pesan masuk pada malam hari. Rencana mengajar dipikirkan ketika anggota keluarga lain sudah beristirahat.
Kita menyebut pekerjaan semacam itu sebagai pengabdian. Sebutan tersebut mengandung penghormatan, tetapi juga dapat menyembunyikan masalah. Tatkala kerja berlebih selalu dipandang sebagai bukti keikhlasan, kelelahan guru tampak wajar. Sistem pun terhindar dari pertanyaan yang lebih penting: berapa banyak waktu guru digunakan untuk membantu murid belajar, dan berapa banyak yang habis untuk membuktikan bahwa ia sudah bekerja?
Emma Kell menulis dalam How to Survive in Teaching bahwa guru yang lelah, pahit, dan kehilangan tenaga tidak akan membawa manfaat bagi siapa pun. Sebaliknya, guru yang sehat dan terus berkembang memiliki peluang lebih besar untuk mengajar dengan baik (Kell, 2018, hlm. 1).
Pernyataan itu terdengar semenjana. Namun, sistem pendidikan sering bertindak seolah daya tahan guru tidak memiliki batas.
Meja Guru
Ketika hasil pendidikan mengecewakan, perhatian segera mengarah kepada guru. Rendahnya literasi harus mereka perbaiki. Persoalan karakter murid masuk ke ruang kelas. Begitu kurikulum berganti atau teknologi baru diperkenalkan, guru kembali menjadi pihak pertama yang diminta menyesuaikan diri.
Kekerasan di sekolah membuat mereka dituntut lebih peka. Hasil asesmen yang buruk melahirkan permintaan agar pembelajaran dibuat lebih kreatif. Program pemerintah datang bersama pelatihan, target, formulir, dan laporan baru.
Guru memang memegang posisi penting. Kebijakan pendidikan baru menjadi nyata ketika diterapkan di kelas. Kurikulum tidak dapat membaca wajah anak yang kebingungan. Modul tidak mengetahui mengapa seorang murid terus tertinggal. Aplikasi juga tidak memahami keadaan keluarga yang membuat anak sulit berkonsentrasi.
Guru-lah yang menerjemahkan semua itu menjadi pengalaman belajar.
Masalah muncul ketika terlalu banyak tanggung jawab diberikan kepada orang yang sama. Guru diminta menjadi pendidik, konselor, operator data, pembuat konten, pelaksana proyek, penghubung orang tua, dan penjaga citra sekolah.
Setiap program datang dengan nama yang menjanjikan perubahan. Namun, bagi guru, perubahan itu sering berarti aplikasi tambahan, dokumen baru, pelatihan, dan rapat yang memotong waktu mengajar.
Kell mempertanyakan apakah krisis guru semata-mata disebabkan beban kerja, atau berakar pada cara sekolah dan sistem memperlakukan mereka (Kell, 2018, hlm. 3). Pertanyaan itu relevan bagi Indonesia.
Kita terbiasa menilai guru melalui perangkat ajar, presensi, laporan, dan hasil belajar murid. Kita lebih jarang memeriksa apakah mereka masih memiliki waktu untuk membaca, memikirkan pelajaran, berdiskusi dengan rekan, dan mengenali kebutuhan setiap murid.
Pemerintah sendiri mengakui persoalan tersebut. Pada Juni 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa beban administrasi yang tinggi telah mengurangi ruang guru untuk berfokus pada pembelajaran. Sistem pelaporan kinerja guru ASN kemudian disederhanakan menjadi sekali setahun dan disampaikan langsung kepada kepala sekolah. Pengakuan ini penting karena menunjukkan bahwa masalah administrasi bukan sekadar keluhan pribadi para guru.
Murid dan Sistem
Administrasi tetap diperlukan. Sekolah membutuhkan catatan, negara memerlukan data, dan orang tua berhak memperoleh informasi. Tanpa pencatatan yang baik, pengelolaan pendidikan mudah kehilangan arah.
Namun, administrasi seharusnya membantu proses belajar, bukan mengambil alih pekerjaan utama guru.
Kell mencatat hasil Workload Challenge di Inggris. Sebanyak 63 persen responden menganggap tuntutan detail yang berlebihan sebagai sumber beban. Sebanyak 45 persen menyebut duplikasi pekerjaan, sedangkan 41 persen menyoroti sifat birokratis tugas mereka (Kell, 2018, hlm. 21).
Konteks Inggris tentu berbeda dari Indonesia. Polanya tetap mudah dikenali. Banyak guru memasukkan data yang sama ke beberapa sistem, mengubah dokumen karena format berganti, menyusun laporan yang belum tentu dibaca, dan mengunggah foto sebagai bukti kegiatan.
Waktu guru seharusnya lebih banyak digunakan untuk menyiapkan pelajaran, membaca pekerjaan murid dengan teliti, serta mendiskusikan anak yang memerlukan bantuan bersama rekan kerja. Kegiatan itu memiliki hubungan langsung dengan pembelajaran.
Sebaliknya, memasukkan informasi serupa ke beberapa aplikasi tidak otomatis memperbaiki mutu kelas. Laporan yang panjang juga tidak selalu membuktikan bahwa pembelajaran berlangsung dengan baik.
Sebelum menambahkan pekerjaan, sekolah perlu bertanya ihwal manfaatnya bagi murid. Bila jawabannya tidak jelas, tugas tersebut layak disederhanakan atau dihentikan.
Guru tidak kekurangan pekerjaan. Mereka kekurangan waktu untuk mengerjakan hal yang benar-benar penting.
Pujian dan Keluhan
Indonesia mudah memuliakan guru. Kita menahbiskan mereka “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ungkapan itu tumbuh dari rasa hormat, tetapi dapat berubah menjadi perangkap tatkala dipakai untuk menolak pembicaraan perihal kondisi kerja.
Permintaan akan beban yang masuk akal mudah dianggap sebagai tanda kurang ikhlas. Guru yang membicarakan gaji dicurigai terlalu materialistis. Pengakuan bahwa mereka kelelahan sering dibalas dengan nasihat agar lebih sabar.
Pujian akhirnya menggantikan perbaikan.
Pada Hari Guru, sekolah mengadakan seremoni, menyanyikan lagu, dan menyampaikan ucapan terima kasih. Keesokan harinya, kelas kembali padat. Laporan tetap menumpuk. Pesan orang tua masuk hingga malam. Rapat mengambil waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk memeriksa tugas atau beristirahat.
Kell mengutip pandangan bahwa guru hadir dengan tubuh, perasaan, dan kehidupan pribadi. Mereka tidak dapat terus mengajar dengan baik jika sisi manusiawinya dipisahkan dari pekerjaan. Dalam keadaan seperti itu, sebagian guru runtuh, sebagian meluapkan tekanan, dan sebagian lain memilih pergi (Nias, 1996, dikutip dalam Kell, 2018, hlm. vii).
Guru bukan martir. Mereka pekerja profesional yang perlu dievaluasi, dikembangkan, dilindungi, dan diberi kondisi kerja yang wajar.
Menghormati guru berarti memastikan mereka dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Pidato dan seremoni tidak dapat menggantikan dukungan tersebut.














