Dari keputusasaan akibat air bah hingga prasasti hidup di plang sederhana: sebuah apresiasi kolektif yang personal
Ibu Kota menyimpan jutaan cerita di balik gang-gang sempitnya. Di jantung pemukiman padat Kelurahan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebuah plang sederhana di lorong kecil sukses menarik perhatian. Tertulis jelas, tanpa basa-basi: ‘Gang Baswedan’.
Nama itu bukanlah hasil rekayasa birokrasi, bukan pula gimmick politik murahan. Ia adalah sebuah prasasti hidup, sebuah cerminan jujur dari rasa terima kasih kolektif yang tulus dari warga yang telah lama terkurung dalam siklus keputusasaan akibat bencana air bah. Gang ini menjadi monumen atas sebuah perubahan nyata.
Ketua RW 06 Jati Padang, Abdul Kohar, adalah saksi kunci kisah ini. Ditemui di tengah labirin rumah-rumah semipermanen, Johar, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa penamaan itu murni inisiatif masyarakat.
“Iya, masyarakat yang bikin,” ujar Johar lugas, mematahkan asumsi bahwa nama itu datang dari kepentingan pihak tertentu.
Pernyataan ini krusial. ‘Gang Baswedan’ bukan gerakan terorganisir, melainkan gerakan organik warga, sebuah tanda penghargaan personal dan intim kepada eks Gubernur Jakarta, Anies Rasyid Baswedan.
Kelakar Warga yang Berakhir dengan Solusi Nyata
Johar membuka kisah pahit yang melatarbelakangi apresiasi ini.
“Jadi gini, daerah kita memang terkenal banjirnya ya,” tuturnya.
Selama bertahun-tahun, warga Jati Padang hidup di bawah ancaman konstan. Setiap kali hujan deras mengguyur atau mendapat kabar banjir kiriman dari hulu, kewaspadaan adalah satu-satunya teman. Kehidupan mereka seolah terikat pada siklus air yang tak kunjung bersahabat.
Saking peliknya masalah banjir, Johar bahkan mengenang kelakar pahit di antara warga: wilayah mereka ini ‘dikencingin beramai-ramai juga banjir’. Sebuah metafora yang menggambarkan betapa mudahnya air merendam kehidupan mereka.
Titik balik itu datang ketika Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Menurut Johar, Anies menjadi satu-satunya Gubernur yang menunjukkan komitmen luar biasa: turun langsung dan berulang kali menginjakkan kaki di wilayah mereka yang terpencil dan sering tenggelam.
Kunjungan yang intensif dan perhatian yang mendalam itu membuahkan hasil konkrit. Solusi nyata akhirnya terwujud berupa pembangunan tanggul penahan air yang berfungsi vital. Kehadiran tanggul ini secara drastis mengubah matriks kehidupan warga Jati Padang, memberikan rasa aman yang telah lama menjadi barang mewah.
Sebagai bentuk apresiasi pertama, warga sepakat menamai struktur pertahanan air itu ‘Tanggul Baswedan’.
Dimanusiakan hingga ke Level Komunitas Terkecil
Namun, gelombang rasa syukur warga tidak berhenti pada tanggul besar.
Efek domino dari penanganan banjir oleh Anies merambat hingga ke lorong-lorong kecil pemukiman, termasuk ke sebuah gang yang sebelumnya juga tak luput dari genangan. Mereka yang merasakan langsung perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari –yang kini tidak lagi perlu memanggul kasur atau barang saat hujan tiba– lantas memutuskan untuk mengabadikan nama sang Gubernur di lingkungan terdekat mereka. Lahirlah ‘Gang Baswedan’.
Penamaan ini menjadi simbol bahwa perhatian yang diberikan pemerintah tidak hanya dirasakan pada skala proyek besar, tetapi menyentuh hingga ke level komunitas terkecil. Ini adalah cara warga di sebuah gang kumuh untuk mengatakan bahwa mereka juga merasa ‘dimanusiakan’.
“Pas pada saat Gubernur Pak Anies Rasyid Baswedan jadi gubernur, dia bilang: ‘Manusiakan manusia, jangan tidak memanusiakan manusia’. Itu yang saya pegang,” ungkap Johar, menukil kalimat yang diucapkan Anies dan kini menjadi prinsip bagi warga.
Johar menutup ceritanya dengan penekanan, menggarisbawahi inti dari penamaan gang tersebut:
“Kita bukan kampanye, bukan apa, karena memang real Pak Anies pada saat itu yang merapikan ini,” tegasnya.
Hingga hari ini, ‘Gang Baswedan’ berdiri tegak di Jati Padang, bukan sekadar plang alamat, melainkan pengingat atas jasa seorang pemimpin yang melihat masalah di sebuah gang kecil, mendengarkan warga, dan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Ia adalah prasasti tulus atas komitmen dan empati.










