Jusuf Kalla di Forum Damai Dunia: Masjid Harus Jadi Ruang Sosial Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Jusuf Kalla di Forum Damai Dunia: Masjid Harus Jadi Ruang Sosial Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Reza Medium.jpeg

Senin, 3 November 2025 – 06:00 WIB

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (ketiga dari kanan) berbicara dalam Daring Peace – International Meeting for Peace 2025 di Roma, Italia, Senin (27/10/2025). (Foto: Jusuf Kalla)

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (ketiga dari kanan) berbicara dalam Daring Peace – International Meeting for Peace 2025 di Roma, Italia, Senin (27/10/2025). (Foto: Jusuf Kalla)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), menyerukan pesan kuat tentang perdamaian dan peran masjid dalam membangun keadaban umat di forum Daring Peace–International Meeting for Peace 2025 yang digelar di Roma, Italia. Di hadapan ribuan tokoh lintas agama dan budaya, JK menegaskan bahwa perdamaian sejati hanya bisa lahir dari keberanian untuk memilih jalan dialog dan solidaritas kemanusiaan.

“Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial yang menumbuhkan keadaban dan solidaritas kemanusiaan,” ucap JK dalam pidatonya, dikutip Senin (3/11/2025).

Menurut JK, perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan keberanian untuk menanggalkan ego, meletakkan senjata, baik fisik maupun ideologis, demi memilih jalan keadilan dan kemanusiaan.

“Perdamaian adalah keberanian untuk meletakkan senjata, baik fisik maupun ideologis, dan memilih keadilan serta kemanusiaan,” ujarnya tegas.

Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), JK menilai masjid memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni sosial. Ia menyebut, di tengah dunia yang kian terpecah, masjid dapat menjadi tempat menumbuhkan nilai moral, solidaritas, dan empati terhadap sesama.

Dalam forum yang sama, Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi DMI, Arsjad Rasjid, menyoroti aspek ekonomi sebagai fondasi perdamaian. Ia menilai ketimpangan ekonomi kerap menjadi sumber laten konflik di berbagai negara.

“Ekonomi tanpa kemanusiaan adalah bentuk konflik tersembunyi,” katanya.

Arsjad menekankan pentingnya ekonomi berkeadaban yang berpihak pada solidaritas sosial. Menurutnya, kemakmuran tidak akan bertahan jika manusia dan perdamaian tidak menjadi pusat kemajuan.

“Anak-anak selalu menjadi korban tertinggi perang dan kemiskinan, sehingga setiap negara harus berani berinvestasi pada generasi muda,” ujarnya.

Ia juga memperkenalkan inisiatif Rumah Wirausaha Masjid, program DMI yang mengubah masjid menjadi pusat ekonomi komunitas. Melalui program ini, masjid berfungsi sebagai tempat anak muda belajar keterampilan digital, perempuan mengembangkan usaha, dan masyarakat menanamkan nilai iman yang produktif.

“DMI mengubah masjid jadi pusat ekonomi komunitas sekaligus tempat anak muda belajar keterampilan digital, perempuan mengembangkan usaha, dan nilai iman diterjemahkan menjadi produktivitas,” jelasnya.

“Ketika orang menemukan martabat dan tujuan dalam pekerjaannya, mereka juga menemukan kedamaian dalam hidupnya,” tambah Arsjad.

Sementara itu, Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, mengingatkan ancaman politisasi agama yang dapat merusak perdamaian dunia. Ia menegaskan, agama bukan sumber konflik, melainkan penyalahgunaannya yang menjadi bahaya bagi kemanusiaan.

“Keberagaman Indonesia adalah warisan spiritual yang dapat dibagikan kepada dunia,” ujarnya.

Nasaruddin menegaskan bahwa Indonesia, dengan keragaman keyakinan dan budayanya, layak disebut sebagai “laboratorium kerukunan”, tempat umat beragama hidup berdampingan dalam harmoni.

Forum International Meeting for Peace 2025 di Roma menjadi ajang penting bagi ribuan pemimpin lintas agama untuk menyuarakan perdamaian global di tengah meningkatnya konflik dan ekstremisme.

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today