Situasi penjual buku di Kwitang, Jakarta Pusat. (Dokumentasi: Inilah.com/ Reyhaanah).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Matahari Minggu (28/9/2025) siang ini begitu menyengat, di persimpangan Jalan Kramat Raya dan Jalan Habib Ali Kwitang, Jakarta Pusat, terlihat suasana cukup lengang. Deretan toko buku yang berjajar di tepi jalan tampak mengumpat di balik teriknya matahari.
Rak-rak kayu berisi buku, sebagian berdebu, sebagian lagi disusun seadanya. Tak ada riuh tawar-menawar, tak ada kerumunan pembeli seperti yang dulu akrab di telinga, hanya ada pemilik toko yang duduk termangu melihat lalu lalang para pejalan.
Inilah wajah baru Pasar Buku Kwitang, yang dulu disebut-sebut sebagai ‘surga pencinta buku’ Jakarta.
Bagi generasi 1980–1990-an, Kwitang adalah tempat wajib untuk mencari bacaan. Saat itu, ratusan pedagang berderet di trotoar. Para mahasiswa, pelajar, hingga dosen kerap menyusuri lorong-lorong kecil mencari buku pelajaran, novel sastra, hingga edisi langka.
Bahkan, film Ada Apa Dengan Cinta? pernah mengabadikan Kwitang sebagai latar, meneguhkan citranya sebagai pusat literasi ibu kota. Kini, cerita itu tak lagi sama.
“Kalau musim tahun ajaran baru, dulu sampai antre. Orang berdesakan cari buku sekolah. Sekarang ada juga sih mahasiswa kan baru pada masuk ya, tapi enggak seramai dulu,” kenang Salmah (52), seorang pedagang yang sudah empat dekade lebih menjaga lapaknya di Kwitang saat berbincang dengan Inilah.com.
Saat ini, pemandangan itu tinggal cerita. Hanya segelintir toko, tidak sampai 10, yang masih bertahan di Kwitang. Akhir pekan ini, tak banyak yang singgah hanya untuk sekadar bertanya harga atau membuka halaman buku bekas yang sudah menguning.
“Sehari tanpa pembeli sekarang kita mah sudah biasa. Kadang ya cuma lihat-lihat, enggak jadi beli, padahal kalau emang buku yang dicari ada ya kita carikan,” tutur Salmah.
Para pedagang di sana mengaku omzetnya anjlok hingga di angka 70-80 persen. Mereka mengatakan, internet dan e-commerce hingga e-book mengubah segalanya.
Pedagang lainnya, Amir (45) mencoba bertahan dengan menjual sebagian koleksi lewat media sosial atau marketplace. Tapi ia mengaku tantangannya berat, mulai dari biaya operasional tinggi, persaingan harga di toko online yang kejam, dan ongkos kirim kadang lebih mahal daripada harga buku itu sendiri.
“Tapi kalau enggak coba, ya makin sepi, kita sampai bikin beberapa akun sebetulnya, karena kalau enggak begitu ya kita bingung buku ini mau dibawa ke mana,” ucap Amir.
Bagi mereka, Kwitang bukan sekadar tempat usaha. Ia adalah rumah, tempat di mana hubungan manusia dengan buku dirawat secara langsung. Amir mengaku, ia menyaksikan perkembangan pasar buku di Kwitang sejak masih sepi, kemudian berjaya sampai akhirnya sepi kembali seperti sekarang.
Meski begitu, Kwitang belum kehilangan daya tariknya. Bagi sebagian orang, terutama anak muda, berburu buku bekas di sini adalah pengalaman yang tak bisa digantikan layar ponsel.
“Bagi yang suka baca tuh kalau ke sini kayak punya momen sendirinya aja gitu, setiap toko disusuri, pas nemu buku yang dimau dan cocok harganya, rasanya tuh lebih dari sekadar senang,” kata Aldi (30) di sela-sela obrolannya bersama pedagang.
Harga buku di Kwitang memang bervariasi. Buku pelajaran bekas atau novel bisa ditebus mulai dari Rp15 ribu, sementara buku langka bisa mencapai ratusan ribu.
Memburu buku di sini, kata mereka, adalah bagian dari pengalaman menikmati kota Jakarta, menyusuri lorong sempit, mengendus aroma kertas tua, dan menikmati obrolan ringan dengan pedagang yang sudah hafal isi raknya.
Pasar Buku Kwitang mungkin tak lagi bising, tapi denyutnya belum sepenuhnya padam. Ia bertahan, pelan-pelan, di tengah gempuran zaman.














