“Pada akhirnya perbuatan manusia menentukan, yang mengawali dan mengakhiri. Bagiku, kata-kata hiburan hanya sekadar membasuh kaki. Memang menyegarkan, tapi tiada arti.”
Petikan dari ‘Arus Balik’ karya Pramoedya Ananta Toer itu seolah menjadi cermin paling jujur bagi PSSI. Kalimat tersebut menegaskan satu hal, nilai sejati terletak pada tindakan, bukan retorika.
Maklum, apa yang direncanakan dan apa yang dijalankan oleh federasi belakangan memang terasa jauh panggang dari api.
Blueprint atau cetak biru PSSI yang selalu diucapkan, namun tak pernah terlihat wujudnya, hanyalah ‘omon-omon’ yang menguap. Ironisnya, ketiadaan bukti ini diperparah oleh inkonsistensi target Timnas Indonesia yang terus berubah.
Jika boleh mengingat kembali, Erick Thohir datang ke federasi dengan janji besar. Pria yang kala itu menjabat Menteri BUMN itu menggantikan Mochamad Iriawan, Ketua Umum PSSI sebelumnya yang mundur lewat mekanisme Kongres Luar Biasa (KLB) pasca tragedi Kanjuruhan.
Setelah bersaing dengan LaNyalla Mattalitti memperebutkan suara voters, Erick lantas mengumbar janji-janji manis, menata ulang PSSI agar lebih profesional, transparan dan berprestasi.
Masyarakat pernah jatuh hati dengan bagaimana kebijakan Erick mengubah wajah Timnas Indonesia. Program naturalisasi yang ugal-ugalan efektif membuat Tim Nasional kompetitif, dari mulai Piala Asia 2023 hingga ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Pencinta sepak bola larut dalam euforia. Belum lagi, Erick juga melakukan manuver sensasional dengan mendatangkan Argentina diadu dengan skuad Garuda pada FIFA Matchday serta meraih status tuan rumah Piala Dunia U-17 2023.
Namun kini, usai sudah bulan madu pencinta sepak bola Tanah Air dengan orang nomor satu di federasi tersebut. Sifat aslinya satu per satu terungkap.
Inkonsistensi target Timnas Indonesia turut menambah garam pada luka fans Merah Putih, usai pemecatan gegabah Shin Tae-yong dari kursi pelatih kepala, lalu bapuknya skuad Garuda era Patrick Kluivert pada ronde keempat.
Selain itu, Erick tidak pernah memublikasikan seperti apa cetak biru sepak bola Indonesia. PSSI hanya mengungkap blueprint melalui komunikasi verbal, itu pun lewat anggota Komite Eksekutif, Arya Sinulingga.
Jika dirunut secara kronologis, target Timnas Indonesia pertama kali terlontar dari mulut PSSI pada acara Diskusi Turun Minum: Refleksi 93 Tahun PSSI di GBK Arena, Senayan, Jakara pada April 2023 silam.
Arya Sinulingga menjabarkan bahwa periode tahun 2024 hingga 2028 adalah tahap pengembangan. Pada tahun tersebut, PSSI akan menyusun program kompetisi berjenjang di usia dini, tepatnya dari level U-9.
Kemudian tahun 2028 hingga 2034 adalah tahap performa. Barulah sepak bola Indonesia dijanjikan keemasan pada periode 2034 hingga 2045. Sesuai nomor tahun, Arya mengungkap Tim Merah Putih ditargetkan bercokol di ranking 45 FIFA.
“Harus dikaitkan antara pertumbuhan ekonomi dengan olahraganya, termasuk sepak bola. Ketika 2045 Indonesia punya target tinggi lima besar dunia ekonomi, sepak bola juga punya target. Pak Erick punya target kita nomor 45 di dunia minimal,” tutur Arya ketika itu.
Secara spesifik, Timnas Indonesia U-17 ditargetkan lolos ke Piala Dunia U-17 lewat jalur kualifikasi pada edisi 2031. Kemudian pada tahun 2033, Timnas Indonesia U-20 ditargetkan melenggang ke Piala Dunia U-20.
Tahun 2036 Timnas Indonesia ditargetkan tampil di Olimpiade. Adapun untuk timnas Indonesia senior, ditargetkan lolos ke Piala Dunia pada edisi 2038.
Perubahan Narasi Target Timnas Indonesia
Paparan cetak biru tersebut tampak menjanjikan, hingga Shin Tae-yong tiba-tiba mengubah naskah cerita yang sudah disusun rapi oleh sang sutradara. Secara mengejutkan, Rizky Ridho dan kolega memberi bukt mereka bisa lolos langsung ke Piala Dunia jauh lebih cepat.
Pada akhir tahun 2024, Timnas Indonesia hanya terpaut satu poin dari Australia pada Grup C ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Artinya, mereka hanya terpaut jarak satu poin dari tiket otomatis ke turnamen yang dilangsungkan di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko tersebut.
Peluang tersebut digunakan PSSI untuk tiba-tiba mengubah target ke Piala Dunia menjadi 12 tahun lebih cepat. Peluang tersebut pula lah yang menjadi dalih PSSI untuk menukar Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert di kursi nahkoda.
Saking ngebetnya ke Piala Dunia, Erick pernah mengancam mundur usai timnas Indonesia gagal menang di tiga laga beruntun ronde ketiga. Kekalahan 0-4 dari Jepang di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta pada 15 November 2024 menjadi puncaknya.
“Pertanyaannya adalah, apakah kalian masih percaya dengan proyek ini? Apa kalian masih percaya saya sebagai pemimpin kalian? Karena jika tidak saya akan mengundurkan diri, saya akan mundur sebagai Ketua Umum PSSI,” tuturnya kala itu.
Jika gagal lolos langsung dari ronde ketiga, setidaknya masih ada ronde keempat. Rupanya, Timnas Indonesia arahan Kluivert tidak segarang itu untuk bisa mencapai Piala Dunia.
Kekalahan dari Arab Saudi dan Irak pada ronde keempat di Jeddah membuat narasi target lagi-lagi berbalik. Pasca-kegagalan yang disebabkan blunder pemilihan pelatih, lewat akun Instagramnya, @ericthohir, PSSI mengungkap fokus pada target meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia selanjutnya di 2030.
“Kita akan melakukan evaluasi dan menentukan target bagi Timnas Indonesia berikutnya untuk bisa masuk ranking 100 besar FIFA, Piala Asia 2027, dan Piala Dunia 2030,” tulis pria yang kini menjabat Menpora RI itu.
Konferensi pers di SUGBK pada Jumat (24/10/2025) lagi-lagi mengubah naskah cerita soal target Timnas Indonesia. Sang sutradara tidak konsisten, kali ini target take-off Garuda ke Piala Dunia mundur lagi ke edisi 2034.
Menariknya, Erick lagi-lagi juga menyinggung soal blueprint. Entah cetak biru versi apa yang dimaksud hingga target Piala Dunia dengan begitu mudahnya mengalami revisi berulang kali.
“Blueprint PSSI tidak berubah, kami maunya 2034 (lolos Piala Dunia) karena ada pembinaan dan pelatih di luar negeri yang kita coba konsolidasikan,” tutur Erick.
“Tapi ada opportunity kemarin, makanya kami coba. tapi secara gentlemen saya minta maaf ke rakyat dan pemerintah. dan setelah kekalahan itu kita langsung rapat malamnya,” katanya menambahkan.
Kritik pedas pun silih berganti berdatangan, tak terkecuali dari elemen suporter skuad Merah Putih. Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) menyampaikan, Erick Thohir sering bicara tentang ‘blueprint sepak bola Indonesia’, tapi sampai hari ini publik tidak pernah melihat atau membaca dokumen itu secara resmi.
“Suporter, akademisi, bahkan pelaku sepak bola tidak tahu arah pembinaan dan tahapan pencapaian yang dimaksud. Ini membuat semua janji hanya terdengar seperti omong kosong,” kata Ketua Umum PSTI, Ignatius Indro.
Menurut Indro, blueprint adalah fondasi utama dalam membangun sistem sepak bola modern. Tanpa perencanaan jangka panjang yang konkret dan transparan, target apa pun hanya akan menjadi slogan.














