Wasit Istvan Kovacs menunjukkan kartu merah kepada Pau Cubarsi dari FC Barcelona setelah tinjauan VAR menyusul pelanggaran terhadap Giuliano Simeone dari Atletico de Madrid (tidak terlihat dalam foto) selama pertandingan leg pertama perempat final Liga Champions UEFA 2025/26 antara FC Barcelona dan Club Atlético de Madrid di Camp Nou pada 8 April 2026 di Barcelona, Spanyol. (Foto: UEFA/UEFA via Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Raksasa Catalan, Barcelona, secara resmi melayangkan komplain formal kepada konfederasi sepak bola Eropa (UEFA) menyusul insiden kontroversial dalam kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid pada leg pertama babak perempat final Liga Champions, Rabu (8/4) waktu setempat.
Komplain tersebut berpusat pada momen krusial di menit ke-54. Kubu Blaugrana merasa sangat berhak mendapatkan hadiah penalti setelah bek Atletico, Marc Pubill, kedapatan menghentikan bola dengan tangannya sesaat setelah kiper Juan Musso tampak telah memulai kembali permainan melalui tendangan gawang (goal kick).
Namun, wasit utama yang memimpin pertandingan, Istvan Kovacs, tidak menganggap kejadian tersebut sebagai pelanggaran. Lebih mengejutkannya lagi, petugas Video Assistant Referee (VAR), Christian Dingert, sama sekali tidak melakukan intervensi untuk meninjau ulang insiden tersebut.
“Departemen hukum klub telah mengajukan komplain formal kepada UEFA mengenai peristiwa yang terjadi pada pertandingan leg pertama babak perempat final Liga Champions UEFA melawan Atletico Madrid,” bunyi pernyataan resmi Barcelona pada Kamis (9/4).
Pihak klub menilai keputusan wasit sangat bertentangan dengan regulasi dan berdampak langsung pada hasil akhir laga. Jika penalti diberikan, Pubill yang sebelumnya sudah mengantongi kartu kuning kemungkinan besar akan menerima kartu kuning kedua dan diusir keluar lapangan.
“Oleh karena itu, klub telah meminta pembukaan investigasi, akses ke komunikasi para wasit (rekaman audio), dan jika memungkinkan, pengakuan resmi atas kesalahan tersebut beserta penerapan tindakan yang relevan,” tambah pernyataan tersebut.
Manajemen Barcelona juga menyoroti bahwa keputusan wasit yang tak masuk akal semacam ini kerap merugikan mereka dalam beberapa edisi Liga Champions terakhir, sehingga menciptakan ketidakadilan saat bersaing dengan klub lain.
Kemarahan Hansi Flick
Insiden tersebut terjadi saat Barcelona tengah tertinggal 0-1 lewat gol Julian Alvarez dan harus bermain dengan 10 orang usai kartu merah yang menimpa Pau Cubarsi. Gawang mereka akhirnya kembali kebobolan pada menit ke-70 melalui aksi Alexander Sorloth.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya atas kepemimpinan wasit. Ia meyakini timnya telah dirampok dari peluang emas untuk bangkit.
“Bagi saya, itu jelas kartu merah—tepatnya kartu kuning kedua—dan sebuah penalti,” kecam Flick dalam sesi konferensi pers pascapertandingan.
“Mereka (VAR) bisa menjelaskan mengapa insiden itu tidak ditinjau. Saya tidak percaya itu bukan kartu merah. Rasanya tidak enak dan sangat tidak adil. VAR hari ini sangat fokus untuk Atletico. Dia (wasit VAR) adalah orang Jerman, jadi, terima kasih Jerman,” sindir Flick tajam menutup pernyataannya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














