Munas dan Konbes NU 2026 di Kediri membahas kepemimpinan, sistem musyawarah, dakwah digital, hingga konsolidasi potensi warga NU untuk menghadapi tantangan masa depan. (Foto: LTN NU)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Isu kepemimpinan organisasi dan arah masa depan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 yang berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri.
Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhadjir, menegaskan bahwa perjalanan NU harus berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang tidak dapat diubah, sekaligus tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menurut Kiai Afif, terdapat perbedaan antara hal-hal yang bersifat permanen atau “harga mati” dengan aspek yang dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan situasi dan kondisi.
“Persoalannya hal-hal apa saja di dalam NU ini yang harga mati dan hal-hal apa saja di dalam NU yang bisa beradaptasi,” ujar Kiai Afif dalam Sidang Pleno II Munas-Konbes NU 2026, Ahad (21/6/2026).
Ia menjelaskan empat prinsip utama yang bersifat permanen dalam tubuh NU, yakni Qanun Asasi beserta Khittah NU, konsep NU sebagai jam’iyyah ijtima’iyyah atau organisasi sosial-keagamaan, dasar Pancasila, serta ideologi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah.
Sementara itu, terkait mekanisme pemilihan kepemimpinan di lingkungan NU, Kiai Afif menilai hal tersebut termasuk kategori yang dapat beradaptasi karena merupakan sarana untuk mencapai tujuan organisasi.
“Harga mati dalam hal yang menyangkut tujuan, akan tetapi bisa beradaptasi dalam hal-hal yang menyangkut sarana untuk mencapai tujuan,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan prinsip musyawarah tidak boleh ditinggalkan dalam setiap proses pemilihan pemimpin.
Menurutnya, konsep musyawarah telah menjadi landasan penting dalam tradisi Islam, termasuk dalam penentuan pemimpin melalui mekanisme ahlussyuro, ahlul ikhtiyar, maupun Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Terkait perdebatan mengenai sistem AHWA yang kerap muncul menjelang forum muktamar, Kiai Afif menyerahkan pembahasannya kepada forum resmi organisasi.
“Mekanisme bisa dimusyawarahkan bagaimana baiknya. Mudah-mudahan di Muktamar nanti bisa dirembugi tentang apa yang terbaik untuk NU,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU KH Anwar Iskandar menyoroti pentingnya Munas dan Konbes sebagai forum strategis untuk merumuskan kontribusi NU dalam menjawab berbagai persoalan bangsa.
Ia mengatakan kompleksitas tantangan yang dihadapi Indonesia menuntut NU untuk terus berperan aktif melalui berbagai bidang pengabdian.
“Begitu kompleksnya persoalan yang dihadapi bangsa ini menjadi bagian tanggung jawab NU dalam dedikasi perkhidmatan terhadap agama, umat, nusa, dan bangsa,” kata Kiai Anwar.
Menurutnya, salah satu agenda penting yang perlu diperkuat adalah optimalisasi peran Lazisnu sebagai lembaga filantropi NU dalam mendukung pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, Kiai Anwar menekankan pentingnya penguatan dakwah dan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah di era digital. Ia mengingatkan bahwa NU tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan tradisional semata dalam menyampaikan pesan keagamaan.
“Kita tahu betul bahwa digital sebagai alat dakwah tidak bisa lagi memakai cara tradisional saja,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa generasi Z akan menjadi penentu masa depan agama, bangsa, dan negara sehingga NU harus mampu memanfaatkan teknologi digital secara efektif untuk memperkuat ajaran dan ideologi organisasi.
Di sisi lain, Kiai Anwar menilai NU memiliki sumber daya manusia yang sangat besar, mulai dari politisi, pengusaha, akademisi, dokter, hingga ahli teknologi informasi. Namun potensi tersebut perlu dikonsolidasikan agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Itu penting diakomodasi, jangan biarkan mereka tercecer. Itu potensi besar yang bisa memberi manfaat, hanya tinggal dikoordinir saja,” katanya.
Melalui Munas dan Konbes 2026, NU diharapkan mampu menghasilkan rumusan strategis terkait kepemimpinan organisasi, penguatan dakwah digital, pemberdayaan ekonomi umat, serta konsolidasi potensi warga NU demi menghadapi tantangan masa depan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














