Neraca Transaksi Berjalan Kuartal II-2026 Jeblok US$12,5 Miliar: Terburuk dalam 22 Tahun

Neraca Transaksi Berjalan Kuartal II-2026 Jeblok US,5 Miliar: Terburuk dalam 22 Tahun

Sepanjang kuartal II-2026, Bank Indonesia (BI) mencatat, defisit transaksi berjalan melebar hingga US$12,5 miliar. Atau 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Atau 3 kali lipat ketimbang kuartal sebelumnya yang mencapai US$3,6 miliar yang setara dengan 1 persen dari PDB.

Jika ditarik ke belakang, defisit transaksi berjalan kuartal II-2026 itu, adalah yang terburuk sepanjang sejarah publikasi transaksi berjalan yang dimulai pada kuartal I-2004. Atau 22 tahun lalu.

Kala itu, defisit transaksi berjalan Indonesia tidak pernah melewati angka US$12,5 miliar. Capaian paling dekat terjadi pada kuartal II-2013 sebesar US$10,1 miliar.

Melebarnya defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit) ini, tentunya bukan kabar baik. Karena berpotensi menurunkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau mata uang lainnya.

Selain itu, defisit transaksi berjalan menggambarkan melonjaknya nilai impor barang, jasa dari Indonesia. Atau cermin dari melonjaknya pembayaran luar negeri suatu negara, lebih besar dari total ekspornya.

Selain nilai tukar, bengkaknya defisit neraca transaksi pembayaran juga menguras cadangan devisa serta meningkatkan ketergantungan terhadap utang luar negeri (ULN) dan berpotensi menurunkan kepercayaan investor global.

Ini Biang Keroknya Menurut BI

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, melebarnya defisit transaksi berjalan ini, dipengaruhi sejumlah faktor yang diperkirakan bersifat sementara alias temporer.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso. (Foto: ANTARA/Rizka Khaerunnisa/am).

“Transaksi berjalan mencatat kenaikan defisit, didorong naiknya defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas,” ujar Denny di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Dia merinci, defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia. Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.

Selain itu, lanjut Denny, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil, dibandingkan capaian pada kuartal I-2026.

Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar US$12 miliar di kuartal II-2026, setelah pada periode sebelumnya mengalami defisit sebesar US$4,8 miliar.

Perkembangan tersebut, dipengaruhi peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio. 

Neraca Pembayaran Masih Oke

Pergerakan transaksi berjalan, serta transaksi modal dan finansial itu, akhirnya berujung kepada neraca pembayaran Indonesia.

Saat ini, bank sentral mencatat, neraca pembayaran Indonesia defisit US$0,9 miliar di kuartal II-2026. Kondisi ini membaik apabila dibandingkan defisit periode sebelumnya yang mencapai US$9,1 miliar.

Sementara posisi cadangan devisa (cadev) tercatat di US$145,6 miliar di kuartal II-2026, setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Dijelaskan, posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Di mana, BI meyakini bahwa neraca pembayaran akan bisa mendukung ketahanan eksternal.

Alasannya, defisit transaksi berjalan diperkirakan lebih rendah karena didukung perbaikan prospek ekspor sejalan dengan kenaikan harga komoditas global

Transaksi modal dan finansial juga diperkirakan tetap surplus ditopang imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia sehingga diharapkan tetap bisa menarik aliran modal asing masuk ke Tanah Air.

“Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI [neraca pembayaran Indonesia] 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” tutup Denny.
 

Visited 3 times, 3 visit(s) today